Minggu, 29 Maret 2015 | 05:14:56

Kamis, 16 Agustus 2012 , 04:04:00

JAKARTA - Kasus transfer bermasalah Titus Bonai yang mencatut nama Persebaya Surabaya perlahan suaranya mulai hilang. Namun, manta CEO Persebaya I Gede Widiade masih belum puas dengan hukuman yang diberikan kepada orang yang disebut sebagai pemalsu administrasi Persebaya, Llano Mahardika.
 
"Masa Persebaya digitukan cuma dihukum tiga bulan. Kalau ada kuasa direksi langsung saya pidanakan," katanya saat ditemui di Jakarta, Rabu (15/8).

Menurut dia, hukuman tiga bulan itu seperti meremehkan nama besar Persebaya. Karena itu, dia meminta PSSI bisa bertindak lebih jauh.

"Klub sebesar Persebaya dipermainkan, ini PSSI harus bertindak. Yang merugikan Persebaya harus dipidanakan," tegas lelaki berkaca mata tersebut.

Keinginan lelaki yang berprofesi sebagai pengusaha agar PSSI bisa bertindak memang cukup beralasan. Sebab, Djohar Arifin saat terpilih dulu menegaskan akan menghapuskan mafia-mafia yang ada dalam sepak bola Indonesia.


Demikian juga dengan semangat Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) yang berkoar untuk menjalankan liga tanpa mafia. Meski, pada kenyataannya staf departemen kompetisi LPIS, Llano, terbukti menjadi penghubung dan pemalsu administrai dalam transfer Tibo.
 
Menurut Gede, kuasa untuk memberikan instruksi agar dirinya segera melaporkan masalah pelasuan ini ada di tangan direksi. Dalam hal ini, pintu bagi Gede untuk segera melapor ke polisi ada di tangan Cholid Goromah, direktur utama PT Persebaya Indonesia.

"Kalau anda CEO masak sampean mau. Klub sebesar Persebaya dibuat mainan. Dirugikan. Harus dipidanakan ini," ucapnya berapi-api.

Gede juga menyebut bahwa syarat dirinya untuk bisa kembali menjadi CEO adalah agar membawa masalah yang mencatut nama Persebaya ke jalur hukum. "Direksi sudah ngajak ngomong saya. Salah satu syarat saya pegang CEO, pidanakan orang yang merugikan Persebaya," terangnya. (aam)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
 

        此页面上的内容需要较新版本的 Adobe Flash Player。

        获取 Adobe Flash Player