Minggu, 26 Oktober 2014 | 12:57:34
Home / Ekonomi / Makro / Pertamina Gelar OP Gas Elpiji

Kamis, 21 Maret 2013 , 10:42:00

BERITA TERKAIT

PALEMBANG--Puluhan masyarakat yang tinggal di kawasan Rumah Susun (Rusun) langsung menyerbu truk bak terbuka milik PT Musi Jaya Kerosine yang mengangkut tabung gas elpiji 3 kilogram (kg),  Rabu (20/3). Warga sangat antusias menyerbu Operasi Pasar (OP) yang digelar oleh PT Pertamina, karena beberapa hari terakhir gas elpiji 3 kg mengalami kelangkaan.

Bahkan, OP yang dimulai pukul 11.00 WIB, sempat ricuh karena warga minta dilayani dengan cepat, karena sudah lama tidak ada gas. Salah seorang warga, Lukman, menilai OP yang dilakukan Pertamina dan Hiswanamigas ini dinilai terlambat oleh masyarakat yang menghuni Blok 2, 1 dan 8. Pasalnya,  harga eceran saat ini sudah mencapai Rp 17.000."Coba dari awal dilakukan," ujarnya.

Humas Pertamina Fuel Retail Marketing Region II Sumbagsel Roberth MV mengatakan, OP dilakukan di 9 lokasi yakni di PT Utama Wahana Mandiri, PT Lima Saudara Serasan di Tangga Buntung, PT Madya Jaya Sentosa di Kamboja, PT Musi Jaya Kerosine di Rumah Susun, PT Karya Anugrah Indah di Mata Merah.

Kemudian, PT Arwana Cahaya Pelangi di Maskerebet, PT Sriguna Patra Niaga Kantor Camat SU 2, Koperasi Patra Sriwijaya Jalan Sentosa Plaju, PT Tunggal Kharisma Abadi di Komplek Griya Bukit Sejahtera Gandus. “Kita menyediakan 5.600 tabung elpiji 3 kilogram. OP dilaksanakan pada 20-22 Maret,” bebernya.
Lebih lanjut, Robert menjelaskan, ekstra dropping adalah untuk memantau dan member kenyamanan kepada masyarakat akan adanya isu kelangkaan yang meresahkan masyarakat.

“Kamis lalu, kita sudah melakukan pengecekan ke lapangan berserta Hiswana dan Disperindag Palembang. Hasilnya stok di lapangan yakni di pengecer dan pengakalan masih ada,” tutur Robert.

Dia menambahkan, tidak ada pengurangan suplai elpiji. Yang ada karena kuota belum keluar dari pemerintah. Jadi dilakukan pengawasan dan penyesuaian supaya tidak terjadi over kuota. “Kita sudah melakukan koordinasi dengan Pemkot untuk pengawasan dan pengamatan terhadap pelaku usaha yang seharusnya tidak mengkonsumsi elpiji 3  kilogram,” ungkapnya.

Robert menegaskan, apabila lembaga penyalur ketahuan dan tebukti menyelewengkan di lapangan diluar batas wilayah masing-masing, maka akan diberikan pembinaan. “Pada prinsipnya elpiji 3 kilogram menganut sistem kuota sama seperti BBM bersubsidi. Sehingga penyalurannya juga harus diatur , diawasi dan disesuaikan jumlahnya agar tepat sasaran,” tandasnya. (ati)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar