Sabtu, 26 Juli 2014 | 22:10:33
Home / Kriminal / Setelah Disodomi, Alim Ditusuk

Jumat, 31 Mei 2013 , 11:44:00

BERITA TERKAIT

PALEMBANG – Terungkap sudah motif Efredi alias Karim (37), yang tega menyayat tubuh bocah SD, Muhammad Muslim (8) alias Alim buah hati Edi Mulyadi (44) dan Eni (33) hingga akhirnya meninggal dunia, setelah menjalani perawatan di RSMH Palembang pada Jumat (24/5) lalu. Dari pengakuan pelaku, saat dirinya tiba di Palembang dengan dijemput langsung oleh Kapolsekta Kalidoni AKP Tri Sumarsih bersama jajaran pada Kamis (30/5) dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB, dirinya hanya berniat untuk menyodomi (maaf, red) korban.

Namun, pelaku akhirnya panik lantaran mendengar suara orangtua korban yang mencari tahu keberadaan anaknya. “Hajat saya sebagai laki-laki, sebenarnya adalah untuk menyodomi korban, itu saja. Setelah itu tercapai, saya puas. Hanya satu kali saya sodomi, lalu saya panik karena mendengar suara ibu korban yang mencari anaknya. Saya takut ketahuan, makanya langsung saya tusuk tubuh anak itu, lalu kabur,”jawab Fredi.

Sempat muncul dugaan Fredi merupakan penganut aliras sesat, ilmu hitam. Namun ketika ditanya awak media, dirinya menjawab dengan berbelit – belit. “Tidak ada, saya memang pernah belajar. Tapi bukan itu (Ilmu Hitam, red). Saya pernah minta pengasihan kepada seorang Kyai di Jawa Barat. Tidak ada ritual yang pernah saya lakukan. Murni itu karena keinginan saya untuk memuaskan nafsu. Saya senang melihat kulit anak – anak yang masih halus dan bersih,”ungkapnya.

Fredi telah memendam keinginan tersebut sejak sekitar dua minggu terakhir. Yang menjadi janggal, adalah ketika Fredi telah menyiapkan sebuah lubang kubur di bagian samping rumahnya. Apakah Fredi memang berniat melakukan pembunuhan atau tidak?

“Setelah Shalat Maghrib dan Isya pada hari Rabu (22/5), saya mulai terpikir untuk sodomi korban. Saya tidak tahu kenapa, namun pada Kamis paginya, saya gali satu lobang disamping rumah. Ya, untuk korban itulah, untuk jaga-jaga. Seingat saya, saya cuma tusuk sebanyak dua kali, satu di perut dan satu lagi diatas perut. Pakai pisau yang telah lama saya miliki.  Setelah ditusuk, korban hilang keseimbangan, dan saya langsung sambut tubuhnya agar tak terhempas,”kata Fredi.

Lantas, bagaimana kronologis kejadian menurut pelaku. Diceritakan alumnus jurusan Manajemen Informatika salah satu PTS di Palembang, yang lulus pada 2002 silam, dirinya sepulang Shalat jumat bertemu dengan korban yang sedang bermain disekitar rumahnya. Pelaku yang biasa dipanggil Kakak Ps (Kakak penjaga Playstation) oleh korban, pun ditanyakan apakah masih buka rental Ps atau tidak. Lantas disanalah muncul keinginan pelaku untuk menjalankan aksi bejat yang sudah direncanakannya.

“Dia bertanya, kakak ps masih buka dak rentalnyo" Aku bilang iyo. Dari sana aku suruh dia kerumah dan aku buntuti dari belakang. Sampai dirumah, dia tanya kaset dimana. Aku suruh pilih kaset ps yang ada di kamar. Setelah dia masuk kamar, aku ambil pisau dan susul masuk. Setelah itu baru aku dekati dan langsung turunkan celana korban,”urai Fredi.

Korban yang memberontak, kemudian dibekap oleh pelaku. Setelah sedikit tenang, Fredi pun memberikan uang sebesar Rp10 ribu sebagai upah untuk tutup mulut. Tak pikir panjang, melihat korban sudah mau mengikuti ajakannya, pelaku lantas menuntaskan “penyakitnya”.

“Seperti itulah, saya tidak lihat lagi kondisi korban apakah tewas atau tidak setelah ditusuk. Saya langsung berusaha keluar dari rumah secepatnya. Saya naik angkot ke simpang tiga Pusri, dan turun, lalu minta baju yang aku pakai ini kepada orang yang ada di sekitar sana. Baru kemudian saya sambung naik naik bis kota menuju stasiun Kertapati untuk naik kereta api ke Tanjung Karang, malam itulah dengan modal uang hanya Rp 260 ribu didalam dompet,”lanjutnya.

Apes dialami Fredi, kerja cepat polisi yang telah memetakan jalan kaburnya bersama pihak keluarga, kemudian berkoordinasi dengan Polsekta Cisoka, Polda Banten. Tak lama setelah pelaku tiba, sekitar pukul 18.30 WIB di rumah Yosef, salah seorang kerabat yang dimaksud di kawasan Tangerang, Banten, dirinya langsung diamankan.

“Saya ini belum pernah pacaran, belum pernah cium cewek. Baru kali ini saya suka dengan laki – laki, dan itu anak – anak. Semua karena pergaulan saya yang suka melihat laki – laki bergaya keperempuan – perempuanan. Ibarat nafsu syahwat, yang saya miliki ini adalah nafsu yang jahat. Saya menyesal, saya khilaf telah melakukan itu,”sesalnya.

Kapolresta Palembang , Kombes Pol Sabaruddin Ginting Sik melalui Kapolsekta Kalidoni AKP Tri Sumarsih SH membenarkan apa yang diceritakan oleh korban. Hanya saja, Tri masih akan medalami pengakuan pelaku yang masih janggal dan terkesan mengaburkan fakta. Terutama mengenai lubang kubur yang telah disiapkan sehari sebelum kejadian.

“Semua yang dikatakan pelaku kepada teman – teman wartawan sama dengan pengakuannya kepada polisi. Kalau intuk itu (ilmu hitam, red) masih dugaan. Kami pun masih akan mendalami lagi keterangan pelaku dan jika memungkinkan juga akan direkomendasikan pemeriksaan kejiwaan. Namun sampai sejauh ini, pelaku sadar dan mengakui perbuatannya,”kata Tri.

Pelaku, lanjut Tri, akan dijerat dengan pasal berlapis, yaitu 351 (3) KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian jo pasal 285 KUHP tentang Pencabulan. Jika terdapat unsur pembunuhan berencana, maka Fredi yang mengaku sebagai guru ngaji dan kerap memberi ceramah dilingkungan tempat tinggalnya juga akan dijerat dengan pasal 340 KUHP yang ancaman hukumannya seumur hidup.

“Untuk sementara, pelaku dititipkan ditahanan Polresta Palembang, untuk menjaga suasan kondusif. Jika memenuhi unsur, tentu akan dikenakan pasal 340 KUHP, (ancaman) seumur hidup. Kami minta warga dan keluarga korban mampu menjaga diri dan mepercayakan kasus ini kepada polisi. Kami berterimakasih kepada keluarga korban yang kooperatif dan Polsek Cisoka yang telah bekerjasama menangkap pelaku,”pungkasnya. (aja)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar