KA Malabar Anjlok Gara-gara Air

Air Tanah Membuat Jalur KA Rentan Longsor

KA Malabar Anjlok Gara-gara Air
KA Malabar Anjlok Gara-gara Air

JAKARTA - Kecelakaan kereta api di Mekarsari, Tasikmalaya 4 April lalu mendapat perhatian serius dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Para ilmuwan LIPI berpendapat, kejadian longsor di jalur KA sebenarnya bisa diketahui lebih dini sehingga bisa mencegah jatuhnya korban.
    
Longsor di jalur KA terbagi dalam dua jenis, yaitu runtuhan dan ambles. Selama sepuluh tahun terakhir, rel di sejumlah kawasan di Jawa Barat lebih sering longsor ambles. Namun, beberapa kali longsor runtuhan dari bukit di atas rel juga terjadi.

"Biasanya, longsor terjadi pada malam hari sehingga sulit untuk diantisipasi," terang Peneliti Pusat Geoteknologi LIPI Adrin Tohari kemarin.
    
Menurut Adrin, ada beberapa sebab terjadinya longsor di jalur KA di Jabar. Dari segi geologi, sejumlah perbukitan di Jabar berbahan batuan vulkanik dan memiliki rekahan. Kondisi tersebut rentan terhadap goncangan, apalagi jika kawasan tersebut menjadi jalur air tanah.
    
Dari segi hidrologi, beberapa titik rel yang pernah longsor diketahui memiliki aliran air bawah tanah. Pola aliran air tersebut sangat berpengaruh terhadap kerawanan struktur tanah di sekitar rel KA. "Dalam kasus KA Malabar, aliran air bawah tanah mengalir ke jalur KA," urainya.
    
Pihaknya merekomendasikan Dirjen Perkeretaapian untuk memetakan kembali lokasi-lokasi rawan longsor di jalur KA di Jabar, termasuk yang belum pernah longsor. Kemudian, mengatur aliran air permukaan dan bawah permukaan untuk menjaga kestabilan tanah.
    
Adrin menawarkan teknologi gravitasi ekstraksi air tanah untuk kestabilan lereng. "Ini akan menyedot air tanah dan memindahkannya ke lokasi yang kita tentukan, untuk menjaga kepadatan tanah," ucapnya. Ditambah lagi, teknologi pendeteksi pergerakan tanah yang langsung bisa memberikan sinyal jika ada rekahan.
    
Di tempat yang sama, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan KA Kemenhub Hanggoro BW mengakui, jalur KA yang ada saat ini merupakan warisan Belanda sebelum kemerdekaan. Keberadaan jalur KA di tebing-tebing bukan tanpa alasan. Kontur daerah Jabar yang berupa perbukitan dan pegunungan menyulitkan KA yang memang tidak mungkin jalan menanjak.
    
Akhirnya, Belanda membuat jalan memutar berkelok-kelok di sisi gunung. "Tetap bisa longsor, tapi tidak setiap hari," ujarnya. untuk saat ini, pihaknya masih berupaya mencari langkah preventif yang tepat untuk mencegah kecelakaan di jalur KA akibat longsor.
    
Karena itu, pihaknya menggandeng LIPI untuk mencari solusi tersebut. "Sebaiknya segera dibuat rancangannya beserta anggaran yang dibutuhkan. Kami akan ajukan anggarannya ke pusat," ucapnya kepada Adrin. Jika teknologi itu sukses, diharapkan kejadian kecelakaan KA bisa diminimalisir. (byu)


JAKARTA - Kecelakaan kereta api di Mekarsari, Tasikmalaya 4 April lalu mendapat perhatian serius dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News