Pemerintah Tidak Berencana Tambah Jatah BBM

Pemerintah Tidak Berencana Tambah Jatah BBM
TUNGGU GILIRAN: Antrean jeriken di SPBU Limbangan, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat. Oetoyo/Radar Indramayu/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA – Meskipun marak antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), pemerintah tidak berencana menambah kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, pemerintah tidak akan menganulir kebijakan pengendalian BBM bersubsidi di beberapa wilayah.

Jero menjelaskan, penambahan kuota BBM bersubsidi hanya akan menambah berat beban keuangan negara. ”Mestinya tidak ada kenaikan kuota. Karena sudah disepakati tidak ada tambahan,” katanya di Jakarta, Senin (25/8).

Dalam APBN Perubahan 2014, kuota BBM bersubsidi ditetapkan 46 juta kiloliter (kl) atau berkurang 2 juta kl dibanding jatah di APBN 2014 sebesar 48 juta kl. Jero menuntut kesadaran masyarakat, terutama dari kalangan mampu, agar tidak membeli BBM bersubsidi. Dia mengimbau pemilik mobil pribadi tidak membeli premium atau solar bersubsidi.

”Orang-orang yang menengah ke atas jangan ikut antre premium atau solar bersubsidi. Ini kan sebenarnya jatah angkot. Orang kaya yang tetap menggunakan BBM bersubsidi berarti tidak punya empati terhadap masyarakat miskin dan kendaraan umum,” tuturnya.

Politikus Partai Demokrat itu tak menampik bahwa antrean pembelian BBM di SPBU memang merupakan dampak kebijakan pengendalian penggunaan BBM bersubsidi.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication PT Pertamina Ali Mundakir mengatakan, pihaknya memangkas alokasi harian BBM bersubsidi di SPBU karena jatah yang semakin menipis. Saat ini pasokan premium tinggal 10 juta kl atau 29 persen dari total kuota. Sedangkan solar hanya tinggal 5,5 juta kl atau 33 persen dari total kuota. ”Itu harus dibagi 140 hari yang tersisa untuk lima ribu SPBU di seluruh Indonesia,” katanya.

Karena itu, Pertamina harus mengerem penyaluran BBM bersubsidi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Terutama wilayah yang cenderung konsumtif. Misalnya wilayah barat dari Pulau Jawa hingga Sumatera. Untuk solar, total pengurangan penyalurannya mencapai 20 persen. Sedangkan premium dikurangi sekitar 5–10 persen.

Hingga kemarin antrean panjang masih terjadi di sejumlah SPBU. Terutama di sejumlah kota di jalur utama pantai utara (pantura) Jawa. Selain premium, solar juga mulai susah didapat. Sebagaimana yang kemarin terjadi di SPBU Kanci, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat. Radar Cirebon (Jawa Pos Group) melaporkan, di SPBU itu stok premium sudah habis mulai Senin kemarin pukul 08.00. Sedangkan solar habis sejak pukul 10.00.

JAKARTA – Meskipun marak antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), pemerintah tidak berencana menambah kuota bahan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News