Terpikat Dakwah Radikal di Internet

Terpikat Dakwah Radikal di Internet
Terpikat Dakwah Radikal di Internet

jpnn.com - PASOKAN  "darah segar" bagi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) belakangan justru berasal dari negara-negara minoritas muslim. Kelompok militan radikal itu mempunyai cara tersendiri untuk menggaet para darah segar tersebut.

Australia, Inggris, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa balakangan ini dibuat pusing Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Sebab, tindakan sadis mereka di Iraq dan Syria di luar batas kemanusiaan. Selain itu, banyak warga mereka yang ikut menjadi militan ISIS.
 
Juru bicara Pentagon Kolonel Steven Warren menegaskan bahwa lebih dari seratus warga Amerika Serikat (AS) kini ikut perang di Syria. Namun, pihaknya belum mengetahui mereka berperang untuk kelompok mana.
 
"Tetapi, kami percaya belasan orang di antaranya telah menjadi anggota ISIS," ungkapnya. Satu di antaranya telah tewas. Badan Inverstigasi Federal AS juga telah menahan beberapa orang yang akan pergi ke Syria untuk menjadi militan ISIS.

Sejauh ini memang belum ada tanda-tanda ISIS bakal menyerang AS dalam waktu dekat. Namun, ada ketakutan bahwa simpatisan ISIS bakal membuat kerusuhan.
 
Agen rahasia AS mengestimasi, setidaknya ada seribu warga Eropa yang pergi ke Syria. Namun, belum ada kejelasan terkait dengan keseluruhannya yang menjadi anggota ISIS atau terpisah ke kelompok-kelompok militan lain.
 
Berdasar data yang dirilis CNN, Finlandia dan Irlandia menjadi negara "pengekspor" militan ISIS terbesar per kapita. Satu di antara 1.400 muslim di dua negara tersebut pergi berperang ke Syria. Namun, jika dilihat secara angka, jumlahnya hanya berkisar 30 orang. Terdapat juga 42 ribu penduduk muslim di Finlandia dan 43 ribu di Irlandia.
 
Posisi kedua diduduki Australia. Di negara tersebut populasi muslim mencapai 339 ribu orang. Diperkirakan ada 250 atau setara 0,06 persen warga Negeri Kanguru itu yang berperang ke Syria. Secara jumlah, militan ISIS dari Inggris cukup banyak. Yakni, mencapai 500 orang.

Namun, populasi warga muslim di negara tersebut juga cukup besar meski Islam tetap menjadi agama minoritas. Sementara itu, jumlah muslim di Inggris mencapai 2,6 juta jiwa.
 
Keampuhan media sosial untuk memengaruhi orang kini menjadi senjata utama ISIS dalam merekrut militan baru di Eropa. Di media sosial satu isu kecil bisa berputar menjadi besar bagai bola panas. Kenyataan tersebut dimanfaatkan betul oleh ISIS.

Mereka menggunakan Twitter, YouTube, Facebook serta berbagai jaringan internet untuk mencari simpati, dukungan, dan menjaring anggota dari berbagai belahan dunia. "Mereka menggunakannya dengan sukses," ujar Pendiri Pusat Penelitian dan Kajian Islam Al Fadi.
 
Publikasi yang mereka lakukan di media sosial tidak hanya soal impian membangun negara Islam versi mereka, tetapi juga kekerasan yang mereka lakukan. Video pemenggalan dua jurnalis Amerika Serikat (AS), James Foley dan Steven Sotloff, sejatinya juga merupakan umpan untuk menarik massa.
 
 Salah satu penulis buku Quran: The Dilemma itu mengungkapkan, ISIS menggunakan segala cara dan metode untuk membuat orang tertarik. Baik dengan pendekatan yang halus maupun cara kasar seperti video pemenggalan tersebut. Cara itu justru berhasil.

Pamor ISIS kini bahkan jauh melebihi Al Qaeda. Semakin banyak pemuda-pemuda dari negara-negara barat yang bergabung dengan ISIS.
 
Tidak semua jihadis yang bergabung berlatar belakang muslim sejak kecil. Banyak juga di antaranya yang baru mengucapkan syahadat ketika masuk menjadi anggota ISIS.

Ketidakmampuan pemuda dari negara-negara minoritas muslim tersebut dalam berbahasa Arab menjadi keuntungan tersendiri bagi ISIS. "Karena tidak mengerti bahasa Arab, mereka tidak memahami sebagian besar ajaran (ISIS). Mereka juga tidak bisa memastikan ajaran itu benar atau salah," tandas Fadi.
 
Ideologi superioritas agama juga digunakan ISIS untuk menarik anggota dari luar Iraq dan Syria. Mereka selalu menegaskan bahwa Islam adalah agama yang lebih unggul ketimbang agama lain.

Kekuatan untuk mendirikan negara Islam hanya bisa diraih dengan menyebarkan ideologi itu melalui kekerasan. Hal tersebut lantas membuat rata-rata anggota ISIS bertindak brutal. (BBC/CNN/Fox News/Daily Mail/c20/sha)


PASOKAN  "darah segar" bagi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) belakangan justru berasal dari negara-negara minoritas muslim.


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News