Selama 13 Tahun, Pemuda Ini Lebih Suka Memakan Kertas Dibandingkan Nasi

Selama 13 Tahun, Pemuda Ini Lebih Suka Memakan Kertas Dibandingkan Nasi
Selama 13 Tahun, Pemuda Ini Lebih Suka Memakan Kertas Dibandingkan Nasi

jpnn.com - TUBABARAT - Sungguh memprihatinkan nasib Rudiyanto, 14, warga Tiyuh Gunungkatun Malai, Kecamatan Tub Udik, Kabupaten Tuba Barat, Lampung. 

Sejak usia satu tahun, putra bungsu dari delapan bersaudara, anak pasangan Sarkawi, 70, dan Husnah, 51, ini memiliki kebiasaan aneh. 

Rudiyanto Lebih suka memakan kertas buku dan kardus dibandingkan nasi. Mirisnya, hal itu selama ini dilakukannya secara sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan keluarganya.
    
Dan akhir-akhir ini, kebiasaan anehnya kian bertambah parah, bahkan sudah hampir tidak mau lagi memakan nasi sebagai makanan pokoknya. Rudiyanto hanya mau makan nasi apabila dipaksa atau dibujuk ibunya. 

Akibatnya, saat ini badan anak remaja ini menjadi kurus kering. Ironisnya lagi, hingga saat ini belum diketahui penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh anak ini. Keterbatasan ekonomi keluargapun menjadi salah satu kendala sehingga penyakit atau derita sang anak tersebut tidak pernah mendapat penanganan ataupun pengobatan yang layak.
      
Sarkawi (ayah Rudi), yang kesehariannya hanya bekerja sebagai kuli serabutan mengaku tak berdaya untuk mengobati anaknya. 
    
"Namanya juga kuli mas, kadang-kadang kerja, kadang-kadang tidak. Dengan kondisi ekonomi kami yang sangat kekurangan ini, kami tidak mampu untuk mengobati penyakit anak saya kerumah sakit, apalagi untuk operasi," ungkapnya kepada awak media baru-baru ini.
    
Dia menuturkan, penyakit atau kebiasaan aneh anaknya tersebut memang sudah dialaminya sejak lama . Namun, kata dia, pada saat anaknya masih kecil, kertas itu masih menjadi cemilannya (makanan ringan) saja. 
    
"Tapi tambah lama tambah parah, dan yang parah-parahnya baru beberapa bulan ini. Anak saya sudah hampir tidak mau makan nasi, misalnya mau itupun jika dipaksa. Jadi sekarang tubuhnya mudah lemas dan lesu, sampai tinggal kulit dan tulang saja," ujarnya.
    
Menurut Sarkawi, pengobatan medis. yang dilakukan selama ini hanya sebatas klinik atau bidan, dan juga dibantu dengan menggunakan obat-obatan tradisional. 

"Obat seadanya saja dari bidan atau obat tradisional. Saya tidak mampu berobat mengantarkan anak saya kerumah sakit," tukasnya.
      
Sementara itu, Ice Haryati, S.St, M.Kes, salah satu bidan yang sempat menangani Rudi mengaku bahwa anak tersebut (Rudiyanto) pernah berobat kepadanya dengan dihantarkan langsung oleh kedua orang tuanya. 
    
"Saya menyarankan agar Rudi di bawa ke puskesmas karena di duga anak tersebut terindikasi terkena TBC," singkatnya kepada wartawan.
   
Tetapi, hingga saat ini belum ada penanganan dari pihak medis terkait kesehatan Rudi. Kedua orang tuanya berharap penuh kepada pemerintah setempat agar kiranya dapat membantu pengobatan putranya itu hingga sembuh. (dra/rnn/ray/jpnn/adi)

TUBABARAT - Sungguh memprihatinkan nasib Rudiyanto, 14, warga Tiyuh Gunungkatun Malai, Kecamatan Tub Udik, Kabupaten Tuba Barat, Lampung.  Sejak


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News