Petisi Cabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Terus Tuai Dukungan

Petisi Cabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Terus Tuai Dukungan
Aung San Suu Kyi. Foto: AFP

jpnn.com - JAKARTA - Petisi yang berisi desakan agar Ketua Komite Nobel mencabut Nobel Perdamaian kepada politikus Myanmar, Aung San Suu Kyi terus menuai dukungan. Sejauh ini sudah 16.263 orang yang menyatakan mendukung penarikan tersebut lewat petisi online di situs Change.org.

Suu Kyi dinilai tidak layak menerima penghargaan Nobel Perdamaian setelah pernyataannya yang bernada rasis diungkap jurnalis, Peter Popham, dalam buku terbarunya berjudul The Lady and the Generals: Aung San Suu Kyi and Burma's Struggle for Freedom. Dalam buku tersebut, Peter Popham mengungkapkan kekesalan Suu Kyi setelah diwawancarai presenter acara BBC Today, Mishal Husain, pada tahun Oktober 2013 lalu.

Kekesalan Suu Kyi disebabkan pertanyaan yang diajukan presenter Muslim tersebut mengenai penderitaan yang dialami oleh umat muslim di Myanmar. Suu Kyi juga diminta mengecam mereka yang antimuslim dan melakukan berbagai tindak kekerasan sehingga umat muslim suku Rohingya terpaksa meninggalkan Myanmar, tapi dia menolak.

Setelah wawancara tersebut, Suu Kyi tak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Tak ada yang memberi tahu bahwa saya akan diwawancarai oleh seorang muslim," kata Suu Kyi. 

Bagi pemrakarsa Petisi tersebut, pernyataan Suu Kyi yang mempermasalahkan seorang jurnalis Muslim pada akhirnya membuat banyak orang kecewa dan marah. Hal ini juga membuka kembali pertanyaan dunia internasional tentang sikap Suu Kyi terhadap kaum minoritas Muslim di Myanmar.

Suu Kyi dinilai tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia yng dialami oleh etnis minoritas muslim Rohingya. "Selama tiga tahun terakhir lebih dari 140 ribu etnis muslim Rohingya hidup sengsara dikamp pengungsi di Myanmar dan di berbagai negara," tegas mereka.

Petisi "Cabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi" diprakarsai oleh aktivis ICW Emerson Yuntho dan sejumlah tokoh pegiat HAM dan demokrasi lainnya. (rmol/dil/jpnn)



Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News