Salah Tentukan Haluan, Dosa Besar Bagi Perencana Pembangunan

Salah Tentukan Haluan, Dosa Besar Bagi Perencana Pembangunan
Menpar Arief Yahya. Foto: Dok.JPNN

jpnn.com - MENPAR Arief Yahya rupanya menjadi inspirator di forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Sumsel, di Hotel Horison, Palembang, Selasa, (12/4). 

Di depan Gubernur, Walikota dan Bupati se Sumatera Selatan,  Mantan Dirut PT Telkom ini membeberkan, mengapa sektor pariwisata diformat sebagai prioritas nasional, selain infrastruktur, energi, pangan dan matirim? Ini jawabannya!

Tanpa basa-basi, Arief Yahya mengupas habis dari hal yang paling fundamental, yakni portofolio bisnis. Mumpung berada di tengah-tengah para pejabat perencana, yang akan membuat arah dan prioritas kebijakan daerah. “Jangan salah arah! Sekali salah menentukan haluan, semakin jauh dari cita-cita yang hendak dicapai. Dan itu adalah dosa besar bagi perencana pembangunan!” ucap Menpar lugas.

Kata-kata itu sangat dalam. Arief Yahya tidak berniat mementahkan rencana besar yang sudah lama ingin diwujudkan di Bumi Sriwijaya itu. Apalagi sekedar mendapatkan pujian dan tepuk tangan riuh di hadapan sekitar 250 orang di sana. 

Dia sedang membongkar cara berpikir lama dengan pemahaman yang sangat mendasar, tentang goal yang hendak dicapai untuk menaikkan value Sumsel ke depan. Untung, Gubernur Alex Noerdin dan seluruh bupati-walikota serta pejabat yang hadir tergolong open mind. Tidak keukeuh dan bertahan dengan romantisme masa lalu yang bisa keblinger.

Arief Yahya memulai dengan The Third Wave-nya Alfin Toffler dalam Future Shock yang sudah ditulis tahun 1986. Ada tiga gelombang perubahan monumental dalam peradaban manusia. “Gelombang pertama adalah agriculture, kehidupan agraris, sector pertanian. Lalu, gelombang kedua, manufacturing, pabrik-pabrik, era industri, era mesin-mesin produksi dan bersifat masal. Gelombang ketiga, era teknologi informasi. Saat ini adalah ujung dari gelombang ketiga itu,” kata Insinyur jebolan ITB Bandung itu.

Lalu apa yang akan terjadi di masa depan? Dr Philip Kotler, Guru Besar Kehormatan S.C. Johnson & Son bidang Pemasaran Internasional di Kellog Graduate School of Management, Northwestern University itu menyebut gelombang selanjutnya adalah “creative industry” atau “cultural industry.” Jauh meninggalkan manufacture, apalagi agriculture. 

“Pariwisata masuk dalam cultural industry! Jasa atau services akan lebih berprospek daripada dua bidang, agriculture dan manufacture itu. Karena itu, kalau kita salah setting, kita akan kehilangan kesempatan untuk memenangkan persaingan global,” tegas Arief Yahya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News