Dulunya Tenggelam, Terhempas Bencana Dahsyat, Kini Jadi ‘Surga’

Dulunya Tenggelam, Terhempas Bencana Dahsyat, Kini Jadi ‘Surga’
Tampak upacara adat menangkap ikan secara tradisional, dikenal dengan festival Mane'e di perairan Pulau Intata, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. FOTO: Manado Post/JPNN.com

jpnn.com - TAK ada penghuninya. Ya, benar. Pulau Intata memang tak dihuni. Ini akibat bencana gempa yang diikuti tsunami yang menghempas dan memisahkan Intata dari Kakorotan pada tahun 1600-an.

Saat bencana dahsyat kala itu, sebagian Pulau Intata tenggelam dan penduduknya hanyut. Hingga kini, penduduk di sana hanya tinggal di Kakorotan.

Pasir putih selembut tepung. Air yang jernih membuat dasar laut tampak transparan. Setiap bulan Mei, dilangsungkan upacara adat menangkap ikan secara tradisional, dikenal dengan festival Mane'e.

Di saat itu, pulau 'Surga' (julukan masyarakat) ini ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Tahun lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ikut larut dalam Mane'e.

"Gembira dan menikmati festival menangkap ikan dengan tangan itu,” ujar Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara, Dr Jetty Pulu.

Sebuah kearifan milik warga Kakorotan yang digelar di Pulau Intata. Mereka memanggil ikan dengan cara menggiringnya melalui jaring yang terbuat dari janur dan tali hutan sekira 3,5 kilometer.

Proses menangkap ikan memakan waktu setahun penuh. Dimulai dengan "eha", sebuah masa dimana setiap warga siapapun itu, dilarang menangkap ikan di wilayah Intata. Warga Kakorotan mematuhi aturan itu.

"Jika tidak mematuhi, ada sanksi adat yang menanti," ucap Jetty seperti dilansir Manado Post (JNN Group).

TAK ada penghuninya. Ya, benar. Pulau Intata memang tak dihuni. Ini akibat bencana gempa yang diikuti tsunami yang menghempas dan memisahkan Intata

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News