AI Bikin Serangan Siber Kian Ganas, Perusahaan Wajib Punya Strategi Backup
jpnn.com, JAKARTA - Indonesia Country Manager Synology Inc., Clara Hsu mengungkapkan tren ancaman penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah berubah secara signifikan.
Menurut Clara, kemunculan AI menciptakan generasi ancaman siber yang lebih adaptif, cepat, dan sulit dilacak.
Efisiensi teknologi tersebut turut dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk merancang metode serangan baru yang membahayakan perusahaan.
“Dulu serangan siber sangat bergantung pada upaya manual. Sekarang AI memungkinkan pelaku serangan mengotomatiskan serangan dan menjalankannya dalam skala besar, sehingga ancaman menjadi lebih canggih dan lebih sulit dideteksi oleh organisasi,” kata Clara dikutip Senin (16/3).
Adapun jenis serangan yang makin berkembang dengan bantuan AI itu di antaranya phishing, pencurian kredensial, dan ransomware.
Pada kasus phishing, pola serangan kini makin terarah dan sulit dikenali.
Jika sebelumnya penipuan email mudah dilacak melalui salah ketik atau tautan mencurigakan, kini teknologi machine learning mampu membuat pesan terlihat sangat autentik.
Pelaku kejahatan siber dapat mengeksploitasi informasi publik targetnya, baik dari media sosial maupun situs perusahaan.
AI membuat serangan siber semakin ganas, bisnis disarankan menerapkan metode backup 3-2-1-1-0.
- Honor Siapkan Robot Phone dengan Kamera Gimbal, Siap Guncang Pasar Smartphone
- Tidak Ada Alasan Lagi Menunda UU KKS
- The Cornerstone Jadi Ruang Kritis Gen-Z Membahas Masa Depan AI
- Lewat Talent & Innovation Hub, Menaker Pacu Talenta Muda jadi Inovator
- AAIBI-KOSA Sepakat Bangun Sinergi Pengembangan AI Indonesia-Korea Selatan
- Wamenaker Afriansyah Tegaskan Kompetensi SDM Kunci Utama Hadapi Digitalisasi Global
JPNN.com




