Aktivis Ditunjuk Jadi Menteri, Pengamat: Tanda Prabowo Tak Mau Warga Kritis Dilaporkan

Aktivis Ditunjuk Jadi Menteri, Pengamat: Tanda Prabowo Tak Mau Warga Kritis Dilaporkan
Enam pejabat saat dilantik oleh Presiden Prabowo di Istana Negara, Jakarta Pusat, para Senin (27/4). Foto: tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden

"Sejatinya, menjadi acuan bagi para pendukungnya agar tidak mudah melakukan pelaporan sana sini terhadap warga yang kritis. Sebab mantan terpidana politik justru diangkat Prabowo sebagai menteri," ujar Ray.

Pengamat politik itu mengatakan pesan pengangkatan Jumhur harus dipandang seksama para pendukung Prabowo. 

Terlebih lagi, sejumlah pendukung Prabowo akhir-akhir ini, banyak melakukan pelaporan terhadap warga kritis.

"Sudah harus dihentikan. Cara seperti ini, cukup berlaku di era Jokowi. Aktivis kritis dibungkam dengan pemidanaan ke polisi," ujar Ray.

Dia mengatakan ke depan polisi juga harus selektif menindaklanjuti laporan yang menyasar warga kritis. 

"Pemidanaan politik harus dikurangi untuk menuju ke pemidanaan kejahatan," ujar Ray.

Diketahui, Presiden Prabowo di Istana Negara, Jakarta, Senin kemarin, melakukan reshuffle kabinet dengan menempatkan enam orang di posisi baru.

Keenam pejabat baru itu ialah Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dudung Abdurachman sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Hasan Nasbi sebagai Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi, dan Abdul Kadir Karding sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia. (ast/jpnn)

Pengangkatan aktivis Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup menandakan Presiden Prabowo tak mau warga kritis musah dilaporkan.


Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Aristo Setiawan

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News