Alex Noerdin, Hasan Aminuddin, dan Saiful Ilah

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Alex Noerdin, Hasan Aminuddin, dan Saiful Ilah
Alex Noerdin. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Orang-orang kuat itu akhirnya satu per satu ditangkap dan masuk penjara. Ada yang ditangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ada yang dicokok oleh Kejaksaan Agung.

Terbaru mantan gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, ditangkap Kejaksaan Agung atas tuduhan penyelewengan tender proyek gas bumi semasa Alex berkuasa 2010-2019.

Orang-orang kuat itu menjalani petualangan politik dengan pola yang kurang lebih sama. Mereka menjadi kepala daerah dua periode, dan selama menjadi kepala daerah terlihat sangat dominan dan menguasai perpolitikan di daerahnya. Setelah pensiun mereka tidak berhenti berkarier, tetapi lanjut menjadi anggota DPR.

Ini pola jenjang karier yang umum dipakai oleh orang-orang kuat itu. Tujuannya, tentu saja, untuk mencari perlindungan politik. Dengan menjadi anggota DPR, setidaknya, ia merasa bisa mendapatkan proteksi politik, dan bersamaan dengan itu masih bisa mengontrol wilayah kekuasaannya yang lama.

Tidak sulit bagi orang-orang kuat itu untuk menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan di bekas wilayah kekuasaannya.

Sepuluh tahun menjadi kepala daerah membuatnya sangat mudah mengumpulkan suara untuk menjadi anggota DPR. Logistik yang memadai dan jaringan birokrasi yang sudah dikuasai di daerah, makin membuat langkah ke Senayan terasa enteng dan lancar.

Untuk menjaga keamanan di daerahnya orang-orang kuat itu menyiapkan suksesi, dengan memasang orang dekatnya sebagai kepala daerah. Biasanya, pilihan pertama adalah anak atau istri. Kalau tidak ada anak istri, dia mencari calon orang-orang kepercayaan.

Cara yang pertama dianggap lebih aman, atau malah paling aman. Tindakan nepotisme dengan memasang istri atau anak sebagai penerus kekuasaan dinasti menjadi modus operandi yang dilakukan orang-orang kuat itu.

Ada kesamaan Alex Noerdin, Hasan Aminuddin, dan Saiful Ilah. Apa itu? Ini kata Cak Abror.