Analis Sebut Penertiban Tambang Ilegal Pacu Produksi Timah Nasional
Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee menyampaikan dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja, harga timah global dan komitmen terhadap penertiban tambang ilegal, Hans masih merekomendasikan Buy untuk TINS dengan target harga Rp 4.700 hingga Rp 5.000 per saham.
Prospek TINS saat ini ditopang oleh pemulihan produksi, dan potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal.
“Kondisi ini dapat membuka ruang bagi TINS untuk meningkatkan perolehan bijih, produksi dan volume penjualan,” kata Hans Kwee di Jakarta, Senin (10/8).
Lebih lanjut, dia menilai valuasi TINS masih akan tetap menarik.
Dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 4,49 kali, valuasi TINS masih relatif murah dibandingkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih perseroan.
Net profit margin TINS yang mencapai sekitar 26 persen dan return on equity (ROE) sekitar 51 persen.
“Prospek harga timah dunia masih positif seiring potensi kekurangan pasokan setelah meningkatnya kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan,” jelas Hans Kwee.
Adapun momentum pemulihan produksi TINS sudah terlihat pada semester I 2026. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, naik sekitar 75 persen dari 6.997 ton Sn pada semester I 2025.
Aktivitas pertambangan ilegal selama ini menjadi salah satu tantangan bagi produsen resmi dan membuat sebagian pasokan timah berada di luar rantai pasok resmi.
- Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi Diharapkan Mampu Menekan Hambatan Investasi
- Soroti Rekam Jejak Bahlil, Akademisi Optimistis Hilirisasi Energi Makin Cepat
- Bahlil & Sarmuji: Hilirisasi dan Transisi Energi Menuju Negara Industri
- Hilirisasi Mineral Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
- Harga Pertamax & Solar Diprediksi Naik Per Oktober
- Kinerja Satgas Hilirisasi Berhasil Bikin RI Menguasai 41% Industri Nikel Olahan Dunia
JPNN.com




