JPNN.com

Anggodo Baca Pleidoi 787 Halaman

Rabu, 25 Agustus 2010 – 04:35 WIB Anggodo Baca Pleidoi 787 Halaman - JPNN.com
JAKARTA - Terdakwa kasus suap dan upaya menghalangi penyidikan KPK Anggodo Widjojo membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam persidangan di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), kemarin (24/8). Pleidoi yang dibacakan secara bergantian antara kuasa hukum Anggodo dan Anggodo sendiri itu, setebal 787 halaman. Untuk itu, kuasa hukum Anggodo, OC Kaligis mengajukan hanya membacakan poin-poin penting dalam pleidoi yang diberi judul "Peranan Makelar Kasus di KPK" itu.

"Karena kalau dibacakan semuanya bisa sampai Maghrib bahkan sampai Imsak pun tidak akan selesai Yang Mulia," papar OC Kaligis di hadapan majelis hakim, pada awal persidangan. OC Kaligis memaparkan, proses hukum yang dialamatkan kepada kliennya sangat kental dengan aroma rekayasa. Dia menegaskan,  kliennya hanya merupakan korban rekayasa kasus yang dilakukan KPK dan Ari Muladi. "Proses hukum yang ditujukan pada terdakwa terlalu dipaksakan dan sangat terasa aroma rekayasanya,"urainya.

Ketika Anggodo mendapat giliran membaca, adik kandung buron Anggoro Widjodjo itu juga menuturkan dia tidak mengetahui secara pasti alasan penahanan atas dirinya, terkait tuduhan suap dan upaya menghalangi penyidikan KPK.

"Saya ditetapkan jadi tersangka sejak 12 Januari, sudah tujuh kali diperiksa KPK, tapi sampai saat ini saya tidak mengerti dalam percobaan suap mana yang dituduhkan ke saya, dan upaya menghalangi pemeriksaan korupsi yang mana tahun 2008,"jelas Anggodo yang kala itu mengenakan batik bernuansa merah muda.

Anggodo berkilah, pada rentang tahun 2008 dan 2009, KPK menangani banyak kasus korupsi. Di samping itu, Anggodo juga membantah dirinya merupakan pihak yang melaporkan pejabat KPK ke Mabes Polri dan melakukan pemerasan. Alasannya, Anggodo tidak pernah bertemu dengan pimpinan maupun pegawai KPK.

Namun, dia tidak berkelit soal pemberian uang senilai Rp 5,1 miliar milik Anggoro Widjojo, yang diberikan kepada Ari Muladi. Anggodo mengakui, dirinya memenuhi permintaan Ari Muladi yang menyatakan uang tersebut merupakan bentuk atensi bagi pimpinan KPK. "Saya adik kandung (Anggoro), saya berikan uang kepada Ari Muladi setelah dengan terpaksa mengiyakan permintaan atensi oleh KPK,"urai Anggodo.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum akhirnya mampu menghadirkan rekaman Call Data Record (CDR) dari Bareskrim Mabes Polri. JPU I Kadek Wiradana menguraikan, pihaknya baru menerima bukti CDR tersebut 23 Agustus lalu, pukul 15.12 dengan surat R/877/VII/Bareskrim/2010. Barang bukti CDR tersebut tidak menyebutkan keterlibatan Ari Muladi maupun Ade Raharja. "Hanya tertulis CDR di amplop (yang membungkus CDR), tapi tidak ada nama-namanya," ujar I Kadek.

 

Namun saat barang bukti tersebut diajukan di persidangan kemarin, majelis hakim menolak memutar CDR tersebut. Majelis hakim tetap mengagendakan putusan untuk sidang selanjutnya. "Ya kami akan mencatat barang bukti tersebut dalam berita acara. Namun, sikap majelis sudah jelas, bahwa sidang berikutnya adalah putusan," tegas Hakim Ketua Tjokorda Rai Suamba. Sesuai keputusan majelis hakim, nasib Anggodo Widjojo ditentukan pekan depan, 31 Agustus dalam sidang vonis. (ken)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...