APKESMI 2025, Soroti Peran Strategis Puskesmas hingga Tuberkulosis Anak
Berangkat dari tema Hari Anak Nasional 2025, “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”, isu tuberkulosis (TB) pada anak menjadi perhatian khusus dalam kegiatan ini. Berdasarkan Global Tuberkolosis (TB) Report 2024, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia dengan sekitar 1,09 juta kasus dan 125 ribu kematian akibat TB setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 135 ribu kasus terjadi pada anak usia 0–14 tahun. Anak-anak termasuk kelompok paling rentan karena sistem imunitas yang belum berkembang sempurna, terutama jika mengalami malnutrisi.
Ketua Umum Akselerasi Puskesmas Indonesia (APKESMI), Kusnadi, SKM., Mkes, menyampaikan Semiloka Nasional APKESMI ke-5 ini bertujuan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan, terutama di layanan primer.
“Semiloka Nasional APKESMI ke-5 ini bertujuan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan, terutama di layanan primer. Forum ini menjadi wadah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan solusi nyata guna meningkatkan kualitas layanan Puskesmas di seluruh Indonesia," ungkap dia.
Penguatan layanan primer sangat penting, termasuk dalam penanganan penyakit menular seperti tuberkulosis yang masih menjadi tantangan besar di masyarakat.
Kusnadi menambahkan bahwa saat ini masih banyak tantangan di lapangan, seperti rendahnya kesadaran untuk memeriksakan diri saat bergejala, serta ketidakkonsistenan dalam menjalani pengobatan yang berlangsung hingga enam bulan.
Karena itu, APKESMI mendorong Puskesmas untuk tak hanya berperan dalam pengobatan, tetapi juga aktif dalam edukasi, penyuluhan, serta membentuk komunitas penyintas TB yang bisa memberi motivasi. Saat ini, Puskesmas juga telah dilengkapi alat Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk deteksi tuberkulosis (TB), dan distribusi paket pengobatan pun sudah berjalan baik.
Selain penguatan layanan primer, penanganan TB pada anak juga perlu disertai intervensi gizi yang tepat. TB juga bisa berdampak pada tumbuh kembang dan fungsi kognitif anak.
Jika tidak ditangani sejak awal, kondisi ini dapat memperburuk infeksi, menghambat proses pengobatan dan menyebabkan malnutrisi seperti stunting, hingga berisiko menurunkan kualitas hidup. Intervensi gizi juga sangat penting, karena sebagian besar anak dengan TB yang berisiko mengalami malnutrisi.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen aktif mendukung agenda transformasi Puskesmas.
- JMFF 2026 Menghadirkan Ruang Eksplorasi Anak, Orang Tua Sambut Positif
- Pelindo Ajak Anak Kenal Pelabuhan, Hidup Sehat & Siaga Bencana Lewat Portground Vol 1
- Waka MPR Dorong Langkah Nyata dan Kolaboratif Tekan Anak Tidak Sekolah di Indonesia
- Sambut World Allergy Week 2026, Morinaga Soya Luncurkan Soyalympic 2026
- Dukung Gizi Anak Bangsa, Produk Indomilk Ini Kantongi Label Pilihan Lebih Sehat BPOM
- Dokter UI Ingatkan Risiko BPA pada Galon Guna Ulang bagi Anak dan Perempuan
JPNN.com




