Arab Saudi Murka, Militer UEA Terpaksa Angkat Kaki dari Yaman
"Mereka yang menghadapi terorisme, Houthi, Al-Qaeda, dan Ikhwanul Muslimim bahu-membahu dengan saudara-saudara mereka tidak bisa sekaligus menjadi pihak yang memicu konflik yang mengancam perbatasan saudara-saudara mereka," tambahnya.
Dia menekankan bahwa fase saat ini membutuhkan "kebijaksanaan dan pengendalian diri," sembari memperingatkan bahwa mengganggu aliansi strategis antara Abu Dhabu dan Riyadh akan menjadi "hadiah cuma-cuma bagi musuh-musuh stabilitas."
Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, membatalkan pakta pertahanan bersama dengan UEA pada Selasa pagi (30/12) dan memberikan tenggat waktu 24 jam bagi pasukan UEA untuk mundur.
Dia juga menyatakan keadaan darurat selama 90 hari, bersamaan dengan larangan udara dan darat selama 72 jam di semua pelabuhan dan perbatasan.
Langkah itu dilakukan tak lama setelah koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman melancarkan serangan udara "terbatas" yang menargetkan dua kapal yang terkait dengan UEA di pelabuhan Mukalla di Yaman.
Serangan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan sejak Dewan Transisi Selatan (STC) merebut provinsi timur Hadramaut dan Al-Mahra awal Desember setelah bentrokan dengan pasukan pemerintah.
Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman melancarkan serangan udara yang menargetkan dua kapal yang terkait dengan UEA di pelabuhan Mukalla di Yaman
Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif
- Rudal Houthi Hantam Istana Kepresidenan Yaman
- Pengamat Nilai RI Perlu Tangkap Peluang Investasi dari Wilayah Timur Tengah
- Houthi Serang Bandara di Ryadh, Komisi I Minta Pemerintah Pantau Kondisi WNI
- Rudal Sekutu Iran Rusak 15 Rumah di Ibu Kota Saudi, Anak dan Perempuan Jadi Korban
- Diteror Antek Iran, Pangeran MBS Tak Berani Jauh-Jauh dari Bunker Persembunyian
- Analis Ungkap Eskalasi Geopolitik di Timur Tengah Mengancam Rupiah
JPNN.com




