Arief Poyuono: MBG Menjadi Instrumen Strategis Pertumbuhan Ekonomi

Arief Poyuono: MBG Menjadi Instrumen Strategis Pertumbuhan Ekonomi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Dokumentasi BGN

Arief mengatakan peningkatan produktivitas dan konsumsi akan berdampak pada penerimaan pajak. Basis pajak yang lebih luas dan ekonomi yang lebih sehat akan meningkatkan penerimaan negara tanpa harus menaikkan tarif pajak.

Artinya, kata dia, MBG berpotensi memperkuat kapasitas fiskal negara itu sendiri.

Dalam kondisi ekonomi global yang lesu dan penuh ketidakpastian, katanya, instrumen domestik seperti MBG menjadi penting. Tanpa pengungkit internal yang kuat, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa saja tertahan di bawah kisaran 4-5 persen.

"Namun, dengan dorongan konsumsi domestik dan peningkatan produktivitas akibat investasi pada gizi, pertumbuhan 2025 yang diproyeksikan di kisaran 5,39 persen menjadi lebih realistis," tutur Arief.

Dia mengungkapkan bahwa dari sejumlah penelitian internasional menunjukkan investasi pada program makan bergizi di sekolah menghasilkan tingkat pengembalian yang sangat tinggi.

UNICEF dan Bank Dunia mencatat bahwa setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan dalam program makan sekolah dapat menghasilkan manfaat ekonomi antara 4 hingga 35 dolar AS melalui peningkatan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas.

"Dalam beberapa kajian lintas negara, estimasi pengembalian ekonomi bahkan berada pada kisaran 16-35 dolar (AS) per 1 dolar investasi," ujarnya.

Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar proyeksi teoritis. Penelitian terhadap sekitar 100 negara penyelenggara program makan sekolah menunjukkan dampak nyata terhadap ekonomi lokal.

Arief Poyuono menyebut Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program makan gratis, melainkan sebuah strategi ekonomi dan juga kebijakan pembangunan manusia.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News