Selasa, 19 Desember 2017 – 01:41 WIB

Australia Didorong Tangani Ketahanan Pangan di Asia Pasifik

Rabu, 06 Desember 2017 – 10:00 WIB
Australia Didorong Tangani Ketahanan Pangan di Asia Pasifik - JPNN.COM

Upaya memberantas kelaparan di kawasan Asia Pasifik telah terhenti, padahal dilaporkan hampir 500 juta orang di kawasan ini kekurangan akses pangan yang cukup.

Kondisi ini memicu seruan agar Australia meningkatkan upayanya dalam menangani ketahanan pangan di kawasan tersebut.

Kundhavi Kadiresan, asisten direktur Organisasi Pangan dan Pertanian PBB untuk Asia Pasifik, mengatakan upaya menghapuskan kelaparan mengalami penurunan setahun terakhir.

Dia menyebutkan adanya tren kelaparan "yang mengganggu" di negara-negara tetangga Australia yaitu di Asia Tenggara.

"Di beberapa bagian kawasan ini melambat dan di bagian lainnya terhenti," katanya.

"Artinya, kita melihat pembalikan tren," kata Kadiresan.

"Itu berarti di sejumlah negara, kita melihat meningkatnya kelaparan dan masalah terkait kekurangan gizi," katanya.

Menurut dia, saat ini sekitar 490 juta orang di kawasan tersebut kelaparan dan tidur dengan perut lapar setiap hari.

Dari terobosan ke penurunan

Dr Kadiresan pekan ini berada di Australia menemui Pemerintah Federal dan lembaga-lembaga bantuan pertanian.

Dia mengatakan Asia Tenggara, dulunya merupakan wilayah yang sukses dalam memberantas kelaparan, telah menyaksikan penurunan terbesar baru-baru ini.

"Asia Tenggara pada umumnya berjalan baik. Asia Selatan yang bermasalah dengan kelaparan dan gizi buruk, khususnya Pakistan, Bangladesh, India," kata Dr Kadiresan.

"Tapi laporan terbaru menunjukkan bagian wilayah tersebut cukup bagus dalam menurunkan kelaparan," katanya.

"Namun, dalam satu atau dua tahun terakhir, negara-negara di Asia Tenggara, khususnya di wilayah Mekong seperti Myanmar dan Thailand serta negara seperti Mongolia memiliki masalah cuaca serius," katanya.

"Produksi makanan sangat menurun. Itu berdampak pada keseluruhan jumlah orang dengan ketahanan pangan yang tidak aman," kata Dr Kadiresan.

A large groups of villagers gather on a mound of land surrounded by water
Menurut Dr Kadiresan, kejadian cuaca ekstrim mendorong penduduk di sejumlah negara kembali menjadi miskin dan kelaparan.

Supplied: UNICEF/Lilu KC

Perubahan iklim

Lebih dari 40 juta orang terkena dampak banjir di Asia Selatan di India, Bangladesh dan Nepal tahun ini. Diperkirakan 1.200 orang meninggal dunia.

Dr Kadiresan mengatakan cuaca ekstrem membuat orang kelaparan, terutama di daerah pedesaan.

"Insiden terkait cuaca ini menjadi sangat sulit, karena bagi mereka yang rentan dan baru keluar dari kemiskinan, kejutan cuaca semacam ini bisa sangat serius," katanya.

"Hal ini mendorong mereka kembali ke situasi kemiskinan dan kelaparan," ujarnya.

Penelitian yang didanai Australia

Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) merupakan lembaga di bawah Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT).

Lembaga ini membangun kemitraan untuk memecahkan masalah ketahanan pangan dan mengurangi kemiskinan di seluruh kawasan.

"Kami ingin bekerja sana dengan negara-negara tersebut, mengidentifikasi hambatan bagi petani agar lebih sukses," kata manajer kemitraan global ACIAR, Melissa Wood.

ACIAR mendanai riset pertanian yang bekerja sama dengan petani dalam menanam tanaman dengan sedikit air, cara menyimpan hasil panen dan memperbaiki akses ke pasar.

Wood menjelaskan bahwa Australia pada akhirnya akan diuntungkan dari riset mereka di kawasan ini.

"Kami bekerja sama soal mangga di Pakistan dan hal itu sangat berhasil karena akan mangga akan tersedia di Australia meski bukan musimnya," katanya.

"Mempromosikan konsumsi mangga sepanjang tahun, yang tentunya bagus buat industri di Australia dan negara pengimpor," jelasnya.

"Alasan lainnya mengapa bagus untuk bekerja sama pada tanaman yang juga ada di Australia, karena kita belajar banyak tentang hama dan penyakit serta ancaman terhadap tanaman ini yang mungkin tidak kita alami di Australia saat ini, tapi sepertinya akan kita alami nanti," ujarnya.

"Jika kita punya pengalaman dalam menghadapi hal itu, kita lebih mampu mengatasinya begitu ada serangan di Australia."

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar