Bamsoet Dorong Penggunaan Merek Kolektif untuk Memperkuat Koperasi Merah Putih
Bamsoet mengungkapkan salah satu hambatan utama dalam pengembangan koperasi produksi adalah ketiadaan produk unggulan yang memiliki identitas merek kuat di pasar.
Banyak koperasi desa memiliki potensi komoditas, mulai dari hasil pertanian, perikanan, hingga kerajinan, tetapi belum terintegrasi dalam sistem produksi dan pemasaran yang solid.
Akibatnya, produk-produk tersebut sulit bersaing, baik di pasar dalam negeri maupun internasional.
Bamsoet menilai konsep merek kolektif mampu menjawab persoalan produksi di tingkat desa.
Dengan satu merek bersama, koperasi dapat melakukan standarisasi kualitas, efisiensi distribusi, hingga penguatan promosi secara terpusat.
Model ini telah terbukti berhasil di berbagai negara, seperti koperasi susu di Eropa yang mampu menembus pasar internasional melalui brand kolektif yang terkelola profesional.
“Melalui merek kolektif, anggota koperasi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka terhubung dalam satu ekosistem produksi dan pemasaran yang saling menguatkan. Ini akan meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan anggota,” kata Bamsoet.
Dia menegaskan Koperasi Merah Putih harus berperan sebagai motor penggerak ekonomi lokal.
Bamsoet menghadiri peluncuran buku 'Penguatan Koperasi Merah Putih Melalui Produk Lokal Berbasis Merek Kolektif' karya Dr. Dewi Tenty Septi Artiany
- LCC 4 Pilar 2026 Digelar, Arianto: Ruang Pembentukan Karakter Pelajar Papua
- Waka MPR: Strategi Komprehensif Jadi Kunci Percepatan Kompetensi Guru
- Sambut Harlah ke-28, PKB Serahkan Beasiswa kepada Siswa Sekolah Alam Arus Kualan
- Cegah Tumpang Tindih Aturan, MPR Minta Harmonisasi Regulasi Daerah Diperkuat
- Sambut Baik Peluncuran SRUK, Eddy Soeparno: Langkah Perkuat Tata Kelola Pasar Karbon
- Waka MPR Berharap Sensus Ekonomi 2026 Hasilkan Data untuk Wujudkan Ekonomi Inklusif
JPNN.com




