Bamsoet Ungkap Politik Uang Masih Menjadi Masalah Besar dalam Pemilu di Indonesia
Menurut Bamsoet, masa depan demokrasi Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk membuka ruang politik seluas-luasnya bagi semua warga negara.
Pemuda, perempuan, dan kelompok rentan bukan sekadar objek dalam demokrasi elektoral, tetapi subjek yang berhak menentukan arah bangsa.
"Dengan memperkuat partisipasi mereka, Indonesia bukan hanya membangun demokrasi yang lebih inklusif, tetapi juga lebih tangguh dalam menghadapi tantangan zaman," tegas Bamsoet.
Dosen tetap Pascasarjana Unhan ini menjelaskan tantangan utama yang menghambat partisipasi inklusif adalah dominasi politik transaksional atau money politics.
Fenomena ini telah mengakar kuat dalam sistem politik Indonesia.
Menurut data Indikator Politik Indonesia pada Pemilu 2024, sebanyak 35 persen responden mengaku menentukan pilihannya karena adanya imbalan uang.
Angka tersebut menandakan pengaruh signifikan politik uang dalam keputusan memilih.
Lebih memprihatinkan lagi, kata Bamsoet, sebagian masyarakat memaklumi praktik ini sebagai bagian dari 'budaya politik'.
Ini yang disampaikan Bamsoet saat memberikan kuliah Pascasarjana Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan
- Terungkap Kelakuan Andri Mulyono dalam Pengadaan Motor Listrik BGN, Ada Pertemuan dengan Lodewyk Pusung
- Kejagung Bakal Periksa Sony Sonjaya terkait JC, Krisna Murti Singgung 26 Nama Tokoh
- Kejati Jabar Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Wabup Indramayu
- Modus Licik Korupsi di BGN Kuras Duit Negara Lewat Dua Klaster
- Mendagri Tito Minta DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu
- Jadi Tersangka Tunjangan Perumahan DPRD, Wabup Indramayu Mangkir Pemeriksaan di Kejati Jabar
JPNN.com




