Baterai Nusantara: Jalan Mandiri Industri Kendaraan Listrik di Kawasan ASEAN
jpnn.com, JAKARTA - Langkah besar menuju kemandirian energi kawasan kini mulai dirintis, yang diawali dua negara, Indonesia dan Malaysia.
Kedua negara menyatukan langkah membangun ekosistem baterai regional lewat proyek kolaboratif bertajuk Baterai Nusantara.
Selama ini, bayang-bayang ketergantungan pada teknologi luar masih melekat kuat di Asia Tenggara.
Padahal, kawasan menyimpan potensi pasar kendaraan listrik yang begitu masif.
Sadar akan peluang itu, kerja sama lintas batas ini dihadirkan bukan sekadar urusan dagang biasa, melainkan upaya merajut kedaulatan industri dari hulu ke hilir.
"Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda," kata Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Evvy Kartini, di Jakarta, Rabu.
Di situlah letak sinergi yang menarik. Indonesia membawa kekuatan pasokan material mentah, sementara Malaysia menyokong fasilitas uji coba atau pilot plant untuk memprosesnya menjadi sel baterai.
Praktiknya, material yang diracik di laboratorium tanah air dikirim seberang selat untuk digarap lebih lanjut di sana, bahkan produk rintisannya pun telah diperkenalkan ke publik negeri jiran.
Indonesia - Malaysia menyatukan langkah membangun ekosistem baterai regional lewat proyek kolaboratif bertajuk Baterai Nusantara.
- BYD Pamer Teknologi Flash Charging di Indonesia, Isi Daya Baterai Makin Ngebut
- INACRAFT 2026 Dorong Kriya Indonesia Naik Kelas Lewat Inovasi dan Regenerasi
- Diskusi di RSIS NTU, Ibas Dorong Kolaborasi Indonesia–Singapura dan ASEAN
- IWIP Perluas Hilirisasi, Prabowo Luncurkan 11 Proyek Senilai Rp180 Triliun
- Public Lecture BRIN-UIN Sunan Kalijaga, Perlindungan Pekerja Fondasi Ketahanan Ekonomi
- Jadi Tuan Rumah Dialog Global, DJKI Soroti Royalti Digital & Hak Cipta Jurnalistik
JPNN.com




