BBM Non-Subsidi Naik Lagi, Pengamat Sebut Masih Wajar, Ikuti Mekanisme Pasar
jpnn.com, JAKARTA - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menanggapi mengenai harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang naik untuk kedua kalinya.
Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah yang tidak terhindarkan bagi pemerintah dan operator di tengah fluktuasi kondisi energi global saat ini.
Fahmy menilai keputusan penyesuaian harga tersebut didasari pada fluktuasi harga komoditas minyak mentah di pasar internasional.
"Jadi, pada saat harga minyak dunia naik, maka ya dia akan menaikkan. Pada saat turun, dia akan diturunkan gitu ya," ujar Fahmy kepada Jpnn.com, Rabu (6/5).
Dia mengungkapkan pemerintah sebelumnya sempat berupaya untuk menahan laju kenaikan harga tersebut.
Namun, tekanan pasar yang besar membuat kebijakan penyesuaian harga akhirnya harus diambil untuk menjaga keseimbangan beban operasional.
Menurut Fahmy, kenaikan yang terjadi untuk kedua kalinya itu masih dalam kategori yang bisa dimaklumi sesuai perkembangan harga dunia.
Dia menyebut tidak menutup kemungkinan akan adanya penyesuaian harga kembali di masa mendatang jika tren pasar terus meningkat.
Pengamat berkomentar mengenai harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang naik untuk kedua kalinya.
- Akademisi Hingga Peneliti Kritik Keberadaan DPN, Ungkap Beberapa Masalah Krusial
- Rupiah Kembali Ambles ke Level Rp 17.500 per Dolar AS, Pengamat Ungkap Biang Kerok
- Bahlil Sebut Impor Minyak Mentah Rusia Mulai Masuk Indonesia dalam 2 Pekan
- Buruh Tak Faham Manfaat Program MBG, Pengamat Sentil Tim Komunikasi Presiden
- Melantik DPD PPEKRAF Sumbar Maria Feronika, Nurliyana: Perempuan UMKM Bangkit
- IHSG-Rupiah Jeblok, Mulyanto: Pasar Perlu Sinyal Politik yang Terukur
JPNN.com




