Begini Caranya Menyambut Para Malaikat yang Turun ke Bumi

Begini Caranya Menyambut Para Malaikat yang Turun ke Bumi
Tampak suasana saat warga menyambut para malaikat. Tradisi ini berlangsung di Kesultanan Tidore sejak abad ke-14. FOTO: Malut Post/JPNN.com

”Jika sudah terikat sapu tangan, berarti makanan itu sudah jadi milik orang lain. Kemudian si pemilik rumah mengantar sendiri makanan tersebut kepada orang yang menandainya,” tutur Amin.

Selain penyambutan terhadap malaikat Allah, tradisi Guto juga mengandung makna berbagi. Terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah.

”Memang makin ke sini makin terkikis zaman. Tapi Guto masih dapat dilestarikan di wilayah Kesultanan Tidore,” kata Amin yakin.

Tak hanya secara tradisi, perayaan Lailatul Qadar juga diisi dengan ibadah sesuai ajaran Islam. Pada malam tersebut, umat muslim memang dianjurkan memperbanyak salat dan amalan lainnya.

”Sehingga pada saat Lailatul Qadar, petani berhenti berkebun, nelayan berhenti melaut. Semuanya fokus beribadah,” jelas Amin.

Usai tarawih dan witir, warga biasanya melakukan ibadah tengah malam berupa salat sunat Lailatul Qadar 12 rakaat.

”Bahkan orang memperbanyak amal dengan tidak tidur sampai selesai salat Subuh,” katanya.

Pada malam itu pula, Sultan Tidore akan menunaikan salat Isya dan tarawih di Masjid Kolano (Masjid Sultan, red). Sebelum salat, sang Sultan akan dijemput perangkat adat dan perangkat masjid di istananya.

Tidore memiliki tradisi unik merayakan malam Lailatul Qadar. Yakni menyalakan semacam obor dan tukar menukar makanan antar warga. Tradisi bernama

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News