Biaya Terlalu Tinggi, Proyek LRT Batam Ditolak Komisi VI DPR

Biaya Terlalu Tinggi, Proyek LRT Batam Ditolak Komisi VI DPR
Ilustrasi proyek LRT. Foto: JPNN

jpnn.com, BATAM - Rencana Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk membangun transportasi Light Rail Transit (LRT) tidak mendapat persetujuan dari Komisi VI DPR RI.

Alasannya adalah biaya pembangunan yang mencapai Rp 7 triliun terlalu tinggi.

Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo Sukartono mengungkapkan bahwa pembangunan LRT dengan biaya setinggi tersebut tidak menjawab persoalan ekonomi yang tengah dihadapi masyarakat Batam.

"Kami tidak setuju dengan pembangunan LRT tersebut," ucapnya kepada Batam Pos, Sabtu (15/4).

Dalam rancangan BP Batam, LRT akan dibangun menjadi dua koridor. Koridor pertama mulai dari Tanjunguncang, kemudian melewati 19 stasiun hingga Batamcentre. Total anggarannya Rp 3.3 triliun.

Sedangkan koridor kedua akan dibangun dari Bandara Hang Nadim, kemudian melewati 25 stasiun menuju Batuampar. Total anggaran untuk koridor kedua adalah Rp 3.7 triliun.

Meskipun menolak, Komisi VI memberikan alternatif. Daripada membangun LRT, BP Batam lebih baik membangun kereta api gerbong di Batam. Biayanya Rp 3 triliun, lebih hemat Rp 4 triliun jika dibandingkan dengan membangun LRT.

"Dana Rp 4 triliun bisa dipakai untuk membangun jalur lintasan kereta sepanjang 150 kilometer dan fasilitas lainnya. Karena pembangunan harus memikirkan skala prioritas, jangan cuma retorika," ungkapnya.

Rencana Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk membangun transportasi Light Rail Transit (LRT) tidak mendapat persetujuan dari Komisi VI DPR RI.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News