Cerita Ketua KPU Arief Budiman Mendapat Ancaman Akan Dibom

Cerita Ketua KPU Arief Budiman Mendapat Ancaman Akan Dibom
Ketua KPU Arief Budiman di gedung KPU, Jakarta, Selasa (21/5/2019)dini hari. FOTO: FEDRIK TARIGAN/JAWA POS

jpnn.com - Rata-rata para komisioner dan staf KPU baru bisa tidur setelah subuh selama Ramadan ini, untuk menuntaskan rekapitulasi suara Pemilu Serentak 2019. Mengonsumsi vitamin, kurma, dan madu salah satu cara untuk menjaga stamina.

BAYU PUTRA, Jakarta

KETEGANGAN itu muncul ketika hingga akhir April lalu tidak kunjung ada rekapitulasi yang tuntas. Baik di tingkat provinsi maupun wilayah pemilihan luar negeri.

’’Kami berhitung, ini bisa selesai nggak, dalam 35 hari,’’ tutur Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman saat berbincang dengan Jawa Pos di sela berbuka puasa di bilangan Jakarta Selatan, Rabu (22/5).

Kekhawatiran itu cukup beralasan. Sebab, Arief berkaca pada Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) 2014 yang masih terpisah dengan pilpres. Saat itu KPU diberi waktu 30 hari untuk menyelesaikan rekapitulasi nasional. Kala itu KPU ketuk palu pengesahan rekapitulasi 15 menit sebelum tenggat berakhir.

Karena itu, sejak awal Arief dan para komisioner KPU lain, yaitu Hasyim Asy’ari, Evi Novida Ginting, Pramono Ubaid Tanthowi, Viryan Azis, Wahyu Setiawan, Ilham Saputra, merancang agar rekapitulasi dilakukan simultan. Begitu ada satu wilayah selesai, level di atasnya langsung membuka pleno dan menyidangkannya.

BACA JUGA: Pernyataan Sikap MUI terkait Kerusuhan Aksi 21 dan 22 Mei 2019

Tidak menunggu semua atau beberapa wilayah lain selesai. Terbukti, sepekan menjelang ketuk palu 21 Mei lalu, KPU DKI Jakarta baru berhasil menuntaskan rekapitulasi kecamatan 100 persen.

Ketua KPU Arief Budiman cerita sudah sering mendapatkan ancaman teror, salah satunya ancaman bom.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News