Danantara di Persimpangan Sejarah: Membangun Kepercayaan Global Tanpa Mengorbankan Tata Kelola
Oleh: Arief Poyuono, Komisaris Pelindo
jpnn.com - Keputusan S&P Global Ratings memberikan penilaian yang positif terhadap prospek Danantara Indonesia bukan sekadar kabar baik bagi sebuah lembaga investasi negara.
Di balik respons tersebut, tersimpan sinyal yang lebih besar bahwa pasar internasional mulai melihat Indonesia memiliki instrumen baru untuk meningkatkan daya saing Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui pendekatan investasi yang lebih profesional.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa kepercayaan pasar global tidak dibangun hanya melalui peringkat lembaga pemeringkat. Kepercayaan dibangun melalui konsistensi tata kelola, transparansi, akuntabilitas, dan kemampuan menghasilkan nilai ekonomi dalam jangka panjang.
Dalam konteks inilah Danantara memasuki fase yang jauh lebih penting dibanding sekadar mengelola aset negara.
Kepercayaan Internasional Adalah Proses, Bukan Tujuan
Dalam literatur Institutional Economics yang dikembangkan oleh Douglas North (1990), institusi memperoleh legitimasi ketika mampu menciptakan kepastian aturan sehingga mengurangi biaya transaksi (transaction cost). Bagi investor global, kepastian jauh lebih penting dibanding janji.
S&P boleh saja memberikan pandangan positif hari ini. Namun apabila tata kelola berubah mengikuti dinamika politik, maka persepsi pasar akan berubah jauh lebih cepat dibanding peningkatan aset.
Karena itu terdapat beberapa agenda yang seharusnya menjadi prioritas Danantara.
Keputusan S&P Global Ratings memberikan penilaian yang positif terhadap prospek Danantara Indonesia bukan sekadar kabar baik bagi sebuah lembaga investasi negar
- Serap 2,09 Juta Ton TBS, PTPN IV PalmCo Dorong Sawit Rakyat Naik Kelas
- Danantara Housing Expo 2026 Digelar 27–30 Agustus di NICE PIK 2, Menangkan Hadiahnya
- Empat Lembaga Teken MoU, Ekosistem Zakat dan Koperasi Syariah Diperkuat
- Tepat Waktu
- Danantara Berhasil Buktikan Kinerja, Pesimisme Berubah Jadi Optimisme
- ABP: Prabowo Buktikan Negara Hadir, Ada 121 Kebijakan Transformatif
JPNN.com




