Danantara Disiapkan Jadi Mesin Baru Ekonomi Nasional, Akhiri Era BUMN Gemuk
Pandangan serupa disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.
Dia menyoroti banyaknya anak usaha BUMN yang bergerak di sektor serupa, tetapi justru saling bersaing dan membebani perusahaan induk.
Menurut Wijayanto, Danantara hadir untuk merapikan struktur bisnis yang selama ini dinilai terlalu gemuk dan tidak efisien.
“Dulu telur-telur BUMN berserakan, sekarang dikumpulkan dalam satu keranjang sehingga lebih mudah dijaga,” katanya.
Meski demikian, para pembicara juga mengingatkan bahwa besarnya kewenangan Danantara harus diimbangi dengan transparansi dan pengawasan publik yang ketat.
Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky, menilai keberhasilan Danantara sangat ditentukan oleh minimnya intervensi politik dalam pengambilan keputusan bisnis.
Dia menegaskan lembaga tersebut harus membuka akses informasi seluas mungkin agar publik dan investor dapat memantau kinerjanya secara objektif.
“Danantara harus transparan agar publik bisa ikut membela kinerjanya di masa depan,” ujar Awalil.
Kehadiran BPI Danantara mulai dipandang sebagai langkah besar pemerintah membenahi wajah pengelolaan BUMN di Indonesia.
- Mengawal Meritokrasi BUMN: Job Bidding Jangan Menjadi Alat Menghukum Pengalaman
- Perkuat Solusi Pengelolaan Sampah, Pertamina Dukung PSEL
- Jasa Marga Fokus Ciptakan Nilai Berkelanjutan, Selaras Arah Transformasi Danantara
- Sepanjang Januari-Juni 2026, Pupuk Indonesia Bukukan Laba Rp8,51 Triliun
- S&P Soroti DSI, Pengamat Nilai Transformasi RI Dinilai Positif oleh Investor
- Pegadaian Raih Penghargaan Top Company in Bullion Bank Industry 2026
JPNN.com




