Dari Asta Cita ke Keadilan Ekologis di Papua
Oleh: Laurens Ikinia - Peneliti di Institute of Pacific Studies; Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta
Publik menilai pertemuan tersebut merupakan sebuah lompatan paradigma menuju kemakmuran yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Pada sisi yang lain, pertemuan itu mendapatkan respon sinis dan kritik dari kalangan terpelajar di Tanah Papua.
Mereka meragukan jangan sampai hasil pertemuan di Instana dapat menjadi pengulangan fatal dari skrip lama yang berujung pada air mata dan kerusakan atau ia bisa menuliskan babak baru.
Tulisan ini mencoba mengungkapkan bahwa kesuksesan Asta Cita di Papua tidak akan diukur oleh kilometer jalan baru atau hektare perkebunan yang dibuka, tetapi oleh kemampuannya menahan laju kehancuran ekologis dan memulihkan keadilan sosial.
Untuk itu, diperlukan fondasi filosofis dan operasional yang kokoh, yang dibangun dari tiga pilar: belajar dari kegagalan masa lalu, mengadopsi prinsip pengelolaan sumber daya yang transformatif, dan menempatkan kearifan lokal sebagai landasan konstitusional pembangunan.
Tanpa ketiganya, pembangunan hanyalah ilusi temporer yang menukar warisan abadi dengan kemakmuran sesaat.
Arsip Terakhir Kehidupan yang Terkoyak
Tanah Papua dipandang sebagai lembaran terakhir dari naskah asli keanekaragaman hayati planet Bumi.
Keadilan harus diperluas menjadi keadilan ekologis. Bagian ini telah dan sedang menjadi perjuangan siang-malam masyarakat pemilik hak ulayat hingga hari ini.
- Prabowo Turunkan Harga BBM Kapal 30–200 GT Jadi Rp 15.000 Per Liter untuk Nelayan
- HNSI Apresiasi Kebijakan Presiden Prabowo Turunkan Harga BBM Khusus Nelayan
- Dari Monroe ke Asta Cita
- Pesan Waketum MUI Anwar Abbas: Takut pada Allah Bukan Prabowo
- Prabowo: yang Merasa Indonesia Suram, Silakan Cari Negara Lain
- Mahfud: Tidak Salah Presiden Minta KPK Mengambil Alih Penanganan Kasus Febrie
JPNN.com




