Diorama Menjadi Drama

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Diorama Menjadi Drama
Ilustrasi - Monumen Pancasila Sakti. Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Menjelang akhir September suhu politik nasional selalu hangat dan menjadi panas, karena perdebatan soal keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam kudeta 1965.

Diorama di markas Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu terdiri dari beberapa patung. Ada patung Soeharto yang ketika itu menjabat sebagai komandan Kostrad, ada patung Sarwo Edhie Wibowo yang ketika itu menjadi komandan Resimen Parako (sekarang menjadi Kopassus), ada juga patung Jenderal Ahmad Yani, dan jenderal-jernderal lain yang menjadi korban dalam kudeta.

Diorama itu menggambarkan saat-saat Soeharto mengatur strategi dan memberikan perintah kepada Sarwo Edhie untuk mengatasi kudeta yang dipimpin oleh Letkol Untung.

Beberapa jenderal TNI yang dikenal anti-PKI diculik dalam kudeta yang diyakini sebagai kudeta PKI. Jenderal-jenderal itu meninggal karena ditembak dan disiksa.

Diorama itu menjadi simbol perlawanan Kostrad terhadap PKI. Dua sosok militer, Soeharto dan Sarwo Edhie dikenal sebagai dua sosok yang berhasil menggagalkan gerakan Untung, yang kemudian disebut sebagai Gerakan 30 September PKI (G30S PKI).

Soeharto dan Sarwo Edhie juga dikenal sebagai pemburu dan penghancur PKI setelah kudeta digagalkan. Puluhan ribu atau ratusan ribu, bahkan ada yang menyebut jutaan, anggota dan simpatisan PKI di Jawa dan Bali, menjadi korban political revenge, pembalasan politik, paling berdarah dalam sejarah Indonesia merdeka.

Sejarah ditulis oleh para pemenang dengan versinya masing-masing. Dalam setiap peristiwa besar selalu ada sisi misteri yang tidak terungkap.

Selalu ada sisi-sisi yang dirahasiakan, dan selalu ada versi dari masing-masing pihak. Setengah abad setelah peristiwa 30 September berbagai aspek masih menjadi perdebatan.

Konon diorama itu adalah simbol sejarah besar dari sebuah peristiwa besar, yang seharusnya memberi pelajaran besar.