JPNN.com

DPR: Respons Pemimpin Dunia Soal Covid-19 Pada Awal 2020 Sangat Beragam

Oleh: Ramson Siagian, Anggota Komisi XI DPR RI

Jumat, 22 Mei 2020 – 14:15 WIB
DPR: Respons Pemimpin Dunia Soal Covid-19 Pada Awal 2020 Sangat Beragam - JPNN.com
Anggota Komisi XI DPR RI Ramson Siagian. Foto: DPR.go.id

jpnn.com, JAKARTA - Awal Januari 2020 masyarakat dan para pemimpin dunia tertegun melihat muncul dan berkembangnya virus corona atau covid-19 di Wuhan, China.

Ada yang memberikan simpati, ada yang sekadar tertegun, dan tidak sedikit pemimpin yang kurang waspada sehingga kurang mempersiapkan strategi pencegahan yang efektif untuk negara masing masing. 

Sesudah covid-19 menyebar di wilayah-wilayah tertentu di masing masing negara barulah para pemimpin tersentak dengan reaksi yang berbeda-beda termasuk di Indonesia.

Respons awal para pemimpin dan masyarakat di berbagai negara di dunia atas merebaknya covid-19 tahap demi tahap berupaya melakukan berbagai tindakan pencegahan dari sisi disiplin pemahaman kesehatan (yang mungkin tidak sedikit yang terlambat). Ini antara lain bertahap melakukan lockdown di wilayah wilayah tertentu di negara masing masing.

Sejak awal Maret 2020, Pemerintahan Jokowi memberikan respons, dan proses awalnya tidak sedikit yang membingungkan masyarakat. Upaya Pemerintah untuk mencegah penyebaran covid-19 secara bertahap antara lain dengan melakukan lockdown di wilayah-wilayah tertentu di Indonesia yang disebut PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Bersamaan dengan berprosesnya respons dari sisi disiplin pemahaman kesehatan, selanjutnya juga berkembang respons dari sisi pemahaman ekonomi. Karena perkembangan realitas dampak ekonomi covid-19 sangat cepat, Pemerintahan Jokowi memberikan berbagai respons.

Menteri Keuangan, OJK, BI, Kadin, juga para anggota DPR ikut memberikan respons terbuka. Ada yang  memberikan respons  kepanikan dengan berbagai kekhawatiran dampak ekonomi covid-19 yang berpotensi terjadinya resesi.

Malah ada yang mengemukakan perlunya melakukan Quantitative Easing dengan mencetak uang sekitar ribuan triliunan rupiah  karena diasumsikan berpotensi terjadi resesi ekonomi dan menyebut nyebut sebagai contoh  resesi ekonomi  di  USA (Amerika Serikat ) pada sekitar 1930-an. 

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
fri