Dua Menit

Oleh Dahlan Iskan

Dua Menit
Dahlan Iskan. Foto: dok JPNN.com

Meski Rusia diboikot dari Piala Dunia tapi saya yakin akan ada siaran sepak bola di TV Vladivistok. Memang sudah dua kali Piala Dunia, Rusia dilarang ikut serta –sejak melakukan pengambilalihan wilayah Crimea dari Ukraina. Waktu itu Rusia sedang ikut babak penyisihan menuju Piala Dunia di Qatar.

Baca Juga:

Dari begitu banyak channel di TV di hotel itu saya temukan ada satu channel khusus olahraga. Channel itu selalu menyiarkan potongan-potongan pertandingan Piala Dunia. Selalu juga memutar ulang pertandingan sehari sebelumnya; dengan komentator Rusia dalam bahasa setempat.

Berarti, besok pagi, di semifinal Maroko lawan Prancis akan disiarkan di channel ini, kata saya dalam hati. Maka channel itu pun saya biarkan hidup terus sepanjang harmal.

Paginya, menjelang jadwal semifinal saya sudah di depan TV. Isinya masih komentar-komentar mengenai Maroko v Prancis. Saya tidak tahu yang dibincangkan tiga komentator itu. Tidak mengerti itu baik agar saya tidak terpengaruh komentator.

Pukul 08.00 tiba. Kok belum pindah ke stadion di Amerika. Lewat tiga menit pun masih tetap adu komentar. Jangan-jangan saya salah lihat jadwal. Saya pun buka internet: tidak salah. Pertandingan sudah dimulai. Sudah lima menit. Posisi masih kacamata.

Akhirnya saya pelototi layar TV itu. Kok tiga komentatornya seperti sedang membicarakan jalannya pertandingan. Dari raut wajah mereka saya ambil kesimpulan: tiga komentator itu menghadap layar TV yang sedang menayangkan semifinal Piala Dunia secara live. Lalu mengomentarinya untuk pemirsa.

Rupanya Rusia tidak hanya dilarang bermain di Piala Dunia bahkan dilarang siaran langsung. Atau, Putin kalah dengan Prabowo: berani bayar mahal untuk mendapat hak siar secara langsung agar rakyat Indonesia bisa menonton secara gratis.

Gubernur Papua kelihatannya mendukung habis program Piala Dunia Prabowo. Sang gubernur Senin lalu meliburkan pegawai negeri di sana. Final Piala Dunia Spanyol-Argentina itu memang baru selesai pukul delapan pagi waktu Papua. Ups..ternyata berita ini hoax. Pemprov Papua sudah mengklarifikasi bahwa berita itu tidak benar.

MENONTON sepak bola itu harus memihak. Itu baru asyik. Ada sedikit tegangnya. Tidak memihak tidak asyik sama sekali. Contohnya saya.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News