Eddy Soeparno Paparkan Program Prioritas Ketahanan Energi Nasional
Eddy juga menyoroti dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap pasokan energi dunia.
Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dan LPG masih menjadi tantangan serius bagi ketahanan nasional.
“Paradoksnya, Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya energi, namun masih sangat rentan terhadap gejolak pasokan global. Ketahanan energi harus menjadi bagian dari strategi ketahanan nasional sehingga kita tidak terus bergantung pada dinamika geopolitik internasional,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Eddy menilai transisi energi harus dilaksanakan secara realistis dan bertahap.
Dia menolak pendekatan yang hanya berorientasi pada pengurangan energi fosil tanpa mempertimbangkan kebutuhan pembangunan nasional.
“Indonesia memerlukan transisi energi yang berkeadilan. Energi baru terbarukan harus terus dipercepat, tetapi pada saat yang sama kita tetap membutuhkan gas sebagai bridging fuel, peningkatan eksplorasi energi domestik, pengembangan bioenergi, hingga pemanfaatan teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS),” jelas Waketum PAN ini.
Lebih lanjut, Eddy memaparkan tiga prioritas penguatan ketahanan energi nasional.
Dalam jangka pendek, pemerintah perlu memperkuat kapasitas kilang nasional, mempercepat elektrifikasi, serta melakukan substitusi energi untuk mengurangi ketergantungan impor.
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan mencapai 8 persen harus berjalan.
- Program Ketahanan Pangan Warga Binaan Membuahkan Hasil & Makin Digenjot
- Jaga Ketahanan Pangan, Gubernur Ahmad Luthfi Perketat Perlindungan Lahan Sawah di Jateng
- Presiden Prabowo Sebut Indonesia Siap Perkuat Ketahanan Pangan Dunia
- Waka MPR Eddy Tampung Aspirasi Guru Besar Unair, RUU Perubahan Iklim Jadi Sorotan
- Petrokimia Gresik, MIND ID, dan PTFI Perkuat Sinergi Bahan Baku Pupuk
- Bahas Ketahanan Pangan, Ratusan Mahasiswa Lintas Kampus Berembuk di Yogya
JPNN.com




