Ekonom Nilai Redenominasi Rupiah Upaya Kosmetik, Urgensinya Apa?
jpnn.com, JAKARTA - Ekonom Achmad Nur Hidayat menyoroti kebijakan redenominasi Rupiah, yang diusulkan untuk menghapus tiga nol dari nominal uang, mengubah Rp1000 menjadi Rp1 baru.
Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta tersebut mempertanyakan esensi dari wacana kebijakan era Menkeu Purbaya ini.
"Pertanyaan mendasarnya bukanlah 'bagaimana caranya', melainkan 'untuk apa sekarang?'," kata Nur Hidayat, dikutip Selasa (11/11).
Nur Hidayat menilai perekonomian nasional masih menghadapi tantangan berat, termasuk tekanan pada daya beli masyarakat, stagnasi investasi, dan peningkatan angka pengangguran di sektor-sektor tertentu.
Dia membandingkan upaya redenominasi dalam konteks ekonomi yang rapuh ini dengan tindakan yang kurang substansial.
"Redenominasi justru terasa seperti mengelupas cat dinding rumah yang retak tanpa memperbaiki fondasinya," kata Nur Hidayat.
Ekonom tersebut menegaskan masalah utama yang dihadapi bukanlah terletak pada konsep redenominasi itu sendiri secara teori.
Secara konseptual, penyederhanaan nominal mata uang memang diakui dapat mempermudah transaksi, mempercantik citra rupiah di kancah internasional, serta meningkatkan efisiensi administrasi keuangan.
Ekonom Achmad Nur Hidayat menyoroti kebijakan redenominasi, yang diusulkan untuk menghapus tiga nol dari nominal uang Rupiah.
- Ekonom: MBG Dongkrak Ekonomi Lokal dan Stabilitas Harga Pangan
- Livin’ Fest 2025 Hadir di Surabaya, Bank Mandiri Siap Akselerasi Ekonomi Jawa Timur
- Begini Cikal Bakal BRI, Lahir dari Kas Masjid hingga Kini Berusia 130 Tahun
- Google Rilis Daftar Kata Kunci Terbanyak 2025, Ada Purbaya tetapi Tidak Nama Prabowo
- CDC 2025: Sorot Perdagangan Kredit Karbon Berkelanjutan hingga Banjir Sumatra
- Pak Prabowo dan Purbaya Mendapat Surat Cinta dari Gubernur Sumbar soal Pemotongan TKD
JPNN.com




