Enak Busuk

Oleh Dahlan Iskan

Enak Busuk
Dahlan Iskan. Foto: dok JPNN.com

Maka yang saya tulis hari ini jangan dibaca dulu. Simpan saja. Tidak terlalu penting. Bukan prioritas.

Baca Juga:

Tapi itu penting untuk kita pahami: tidak enak di satu MBG bukan berarti tidak enak semua. Mana yang lebih banyak? Yang enak atau yang tidak enak? 90:10 untuk menang yang enak? 70:30? Atau 30:70? 10:90?

Yang jelas tidak semua MBG tidak enak. Artinya tidak semua investor berhati busuk. Perkiraan saya, berdasar diskusi dengan para investor, yang busuk itu sekitar 10 persen.

Sebenarnya tidak banyak. Tapi bukankah ada pepatah nila setitik rusak susu se Malinda? Maka soal busuk dan keracunan sebaiknya jangan pakai persentase.

Prinsip "kalau satu menu enak, menu lainnya juga enak" bisa dipakai untuk mencarikan jalan keluar ketidakenakan rasa MBG. Caranya: kumpulkan keluhan "tidak enak". Lalu petakan per dapur MBG.

Jangan-jangan keluhan tidak enak datang dari dapur MBG tertentu. Itu pun jangan langsung diberi sanksi. Adakan survei kecil-kecilan khusus untuk siswa yang dapat makanan dari dapur tersebut. Serahkan hasil survei ke kepala dapur. Barulah kepala dapur menentukan langkah berikutnya. Terserah mau diapakan.

Untuk melakukan tindakan tidak mudah. Kita sudah terbiasa tidak menganut prinsip meritokrasi.

Seharusnya "meritokrasi" pun perlu dilakukan di level dapur MGB. Kalau antara kepala dapur dan juru masak terjadi hubungan khusus, tentu sulit bagi kepala dapur untuk melakukan penggantian juru masak.

Tentu ada yang mengeluh: makanan MBG tidak enak. Ada seorang ibu yang bercerita anaknya tidak mau makan makanan MBG. Apakah itu berarti semua?

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News