Epidemi Merokok Tak Kunjung Usai, THR Dinilai Layak Dipertimbangkan
Menurut mereka, berbagai penelitian dalam satu dekade terakhir menunjukkan produk tanpa pembakaran memiliki risiko kesehatan lebih rendah dibandingkan rokok bagi perokok dewasa.
Produk tersebut juga dinilai berpotensi membantu perokok beralih dari rokok konvensional.
Namun, kebijakan THR tetap perlu diterapkan dengan mempertimbangkan bukti ilmiah dan perlindungan masyarakat.
Bonita dan Beaglehole bahkan mengingatkan potensi dampak dari pelarangan produk alternatif yang memiliki risiko lebih rendah.
"Pelarangan terhadap produk alternatif yang memiliki risiko lebih rendah berisiko membuat rokok tetap menjadi produk nikotin legal yang dominan atau mendorong permintaan ke pasar ilegal," tulis mereka.
Mantan Direktur WHO Tikki Pangestu turut menilai THR dapat menjadi bagian dari strategi pengendalian tembakau.
Dia mengatakan pendekatan tersebut bukan untuk menggantikan kebijakan konvensional, melainkan melengkapinya.
"Tobacco Harm Reduction menjadi salah satu pendekatan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal," ujar Tikki.
Upaya menekan epidemi merokok dinilai tidak cukup hanya dengan mencegah masyarakat mulai merokok.
- Taat Aturan, CV Barakah Putra Jaya Kantongi Izin NPPBKC dari Bea Cukai
- Rokok Ilegal Makin Marak, Ahli Ingatkan Soal Aturan IHT
- Bertekad Konsisten dengan Amanah Konstituen, Misbakhun Tepis Tuduhan soal Terlibat Pita Cukai Rokok
- Studi Jepang Soroti Perubahan Kualitas Udara Dipengaruhi Produk Tembakau yang Dipanaskan
- Tanggapi Rencana Penyeragaman Kemasan Rokok dan Vape, Ekonom: Produk Ilegal Makin Sulit Dibendung
- Penyeragaman Bungkus Rokok Dinilai Sebagai Langkah yang Keliru
JPNN.com




