Eulogi Lia
Oleh Dahlan Iskan
Nara-lah yang menjadi produser acara TV Famili 100. Juga Bursa Musik Indonesia (BMI). KLakustik. Akustik Plus. Dan banyak lagi.
Ia juga pernah mengajar sampai menjadi kepala program studi TV di Institut Kesenian Jakarta. Nara juga yang menjadi sutradara video klip Tantowi Yahya, Harry Roesli, Katon, dan banyak lagi.
Baru ketika ''bertetangga'' di Amerika, Nara sempat bertanya pada James: bagaimana riwayat lahirnya lagu Astaga. Itu diceritakan Nara di euloginya kemarin.
"Saat itu James naik bus kota di Jalarta. Penuh. Padat. Pengab. Sesampai di Mampang Prapatan ia melihat ada tabrakan mobil. Lalu ia lihat banyak anak muda yang menonton tanpa berbuat apa-apa. Astaga, kata James. Begitu tidak peduli anak-anak muda itu. Lalu jadilah lagu. Beberapa bulan kemudian seorang produser datang ke James: apakah punya lagu baru yang bisa dirilis. James menyodorkan Astaga. Lalu James bertanya siapa yang akan menyanyikannya. Terpilihlah Ruth Sahanaya."
Tepat sekali Nara yang dipilih menyampaikan eulogi. Istri Nara sendiri, Maya, lebih dulu diketahui terkena kanker.
James sedih mendengar Maya harus menjalani kemoterapi. James-pun ingin masak soto untuk Maya: agar selera makan Maya bisa bangkit lagi.
Tak lama kemudian Nara mendengar James juga terkena kanker paru. Lebih fatal. Dokter mengatakan usia James tinggal tiga atau empat bulan. Awalnya James tidak mau menjalani kemo. Pasrah. Ia juga masih bisa tertawa. Tapi Nara dan Maya terus meyakinkan James agar bersedia menjalani kemo. Akhirnya James mau.
Saya mengikuti upacara pemakaman kemarin melalui live streaming. Ada perubahan di acara pembacaan doa: yang mewakili sahabat Islam bukan Ustaz Jaya, melainkan Ustaz Mohamad Thoha.
JPNN.com




