FITK UIN Sunan Kalijaga jadi Pusat Sospem Mahasiswa Baru S2 dan S3

FITK UIN Sunan Kalijaga jadi Pusat Sospem Mahasiswa Baru S2 dan S3
UIN Sunan Kalijaga menggelar sospem mahasiswa baru S2 dan S3. Foto: dok. UIN Sunan Kalijaga

Dalam sambutannya, Noorhaidi menekankan bahwa pendidikan pascasarjana bukan hanya proses memperoleh gelar, tetapi juga ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mendalami ilmu pengetahuan, dan menghasilkan solusi terhadap berbagai persoalan.

Ia turut mengingatkan mahasiswa Magister dan Doktor agar tidak menjadikan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai jalan pintas dalam proses akademik.

“Esensi dari studi pascasarjana adalah proses mengasah otak melalui interaksi langsung dengan ilmu pengetahuan, memahami konsep secara mendalam, berpikir kritis, dan merumuskan solusi kreatif,” kata Noorhaidi.

Menurutnya, ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi menghambat proses berpikir mahasiswa.

“Jika mahasiswa magister dan doktor hanya mengandalkan AI sebagai jalan pintas, proses berpikir organik tersebut akan terhenti, yang pada akhirnya menumpulkan kemampuan problem solving dan mematikan kreativitas alami mereka,” ujarnya.

Model Sospem yang dilaksanakan secara hybrid juga mempertemukan mahasiswa pascasarjana dari berbagai disiplin ilmu dalam satu ruang akademik, sekaligus memberi kesempatan kepada masing-masing program studi untuk memperkuat identitas keilmuannya.

FITK menjadi pusat pelaksanaan Sospem karena memiliki jumlah mahasiswa baru jenjang pascasarjana terbesar di antara fakultas di UIN Sunan Kalijaga pada 2026.

Dari total 638 mahasiswa baru S2 dan S3 UIN Sunan Kalijaga, sebanyak 572 orang merupakan mahasiswa Program Magister dan 66 lainnya mahasiswa Program Doktor.

UIN Sunan Kalijaga menggelar sospem mahasiswa baru S2 dan S3, Rektor Prof. Noorhaidi Hasan, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D. menyoroti penggunaan AI.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News