Fortifikasi Beras Jadi Investasi Strategis Atasi Anemia & Kekurangan Gizi Mikro

Fortifikasi Beras Jadi Investasi Strategis Atasi Anemia & Kekurangan Gizi Mikro
Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI), Dra Nina Sardjunani MA,saat menjadi pembicara kunci dalam Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in Commerce Market, Rabu (24/6). Foto Mesya/JPNN

Fortifikasi dinilai dapat membantu menurunkan risiko kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi, seng, vitamin B1, vitamin B12, asam folat, vitamin B3, vitamin B6, dan vitamin A.

Dalam beras fortifikasi, zat besi berperan membantu mencegah anemia, mendukung imunitas, kecerdasan, dan produktivitas.

Kandungan Seng berperan dalam imunitas dan pertumbuhan, yang juga penting dalam upaya pencegahan stunting. 

Beras fortifikasi juga memiliki nilai strategis karena tidak mengubah sifat organoleptik beras, seperti rasa, warna, aroma, dan tekstur. 

"Dengan demikian, masyarakat tetap dapat mengonsumsi beras seperti biasa, tetapi memperoleh tambahan zat gizi mikro yang dibutuhkan tubuh," ucapnya.

Selain itu, teknologi fortifikasi beras juga telah tersedia dan terbukti dapat diterapkan.

Berbagai studi di sejumlah negara seperti Filipina, India, Thailand, Bangladesh, Brasil, dan Afrika Selatan menunjukkan fortifikasi beras dapat meningkatkan kadar hemoglobin, menurunkan prevalensi anemia, serta memperbaiki status mikronutrien.

Indonesia juga memiliki pengalaman uji coba fortifikasi beras melalui program Raskin di Kabupaten Karawang pada 2009–2016. Dalam uji coba tersebut, beras fortifikasi diproduksi dan didistribusikan sebanyak 5 ribu ton selama 10 bulan di 50 desa.

Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI), Dra Nina Sardjunani MA, mengatakan, fortifikasi beras jadi investasi strategis mengatasi anemia.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News