Fortifikasi Beras Jadi Investasi Strategis Atasi Anemia & Kekurangan Gizi Mikro
KFI merekomendasikan perlunya politik anggaran yang jelas dalam program jaring pengaman sosial.
Hal ini penting untuk menciptakan kepastian pasar bagi industri sekaligus memastikan masyarakat rentan memperoleh akses terhadap beras bergizi.
"Penguatan ekosistem juga perlu dilakukan melalui fasilitasi hulu-hilir, mulai dari pengembangan industri kernel beras fortifikan, penguatan penggilingan, perdagangan beras fortifikasi, hingga distribusi untuk program pemerintah dan pasar komersial," ujarnya.
KFI juga mendorong penerapan secara bertahap di wilayah prioritas, terutama daerah dengan kasus stunting tinggi dan daerah yang dinilai lebih siap, seperti Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Dengan dukungan regulasi, pembiayaan, produksi, distribusi, riset, serta edukasi publik, fortifikasi beras dinilai dapat menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan gizi masyarakat Indonesia. (esy/jpnn)
Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI), Dra Nina Sardjunani MA, mengatakan, fortifikasi beras jadi investasi strategis mengatasi anemia.
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad
- Menko Airlangga Resmikan Pabrik PT HSG Material Indonesia Senilai Rp710 Miliar di KEK Kendal
- Butuh Dana Segar Rp13 Triliun Agar Ekonomi Indonesia Ajeg
- Luhut Beberkan Kondisi Indonesia kepada Para Investor, Jangan Kaget
- Prabowo Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi dengan Total Investasi Rp180 Triliun di Maluku Utara
- Renault Kucurkan Investasi Rp200 Triliun untuk Garap EV dan Mobil Murah
- Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Indonesia Butuh Investasi Rp13.000 Triliun
JPNN.com




