GREAT Institute Desak Pembentukan UU Keamanan Nasional dan Dewan Keamanan Nasional

GREAT Institute Desak Pembentukan UU Keamanan Nasional dan Dewan Keamanan Nasional
GREAT Institute menyampaikan empat rekomendasi strategis hasil Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Potensi Perang Dunia dan Kesiapan Indonesia ke Depan, Jumat (4/7). Foto dok. GREAT Institute

Helmy Fauzy memuji langkah Presiden Prabowo yang membawa Indonesia masuk ke BRICS. Sikap Indonesia kini tegas. Beda dengan era sebelumnya yang masih gamang..

Dr. Stepi Anriani, pakar pertahanan dan intelijen, menyebut perang kini telah bergeser menjadi multidomain warfare.

“Perang tidak lagi frontal, tetapi simultan dan presisi. Lihat serangan B-2 Spirit Amerika ke fasilitas Iran atau rudal presisi Iran ke Israel. Semua terukur,” ujarnya.

Diskusi juga menyoroti pentingnya skenario contingency planning, kelemahan logistik pertahanan, serta kebutuhan akan transformasi strategi nasional dari sekadar “resiliensi” menuju “respons tangkas berbasis intelijen dan teknologi.”

“Perang modern itu cukup dengan satu tombol,” ujar Dr. Sunoto, menyinggung urgensi mengubah doktrin lama dan memperkuat kemampuan early warning.

Sebagai penutup, GREAT Institute mengingatkan bangsa ini pada satu pelajaran dari sejarah: dunia tak pernah benar-benar damai. (esy/jpnn)


GREAT Institute mendesak pembentukan UU Keamanan Nasional dan Dewan Keamanan Nasional


Redaktur : M. Rasyid Ridha
Reporter : Mesyia Muhammad

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News