Hati Separuh
Oleh: Dahlan Iskan
Dua minggu sudah lewat. Belum juga tahu kapan transplant bisa dilakukan. "Mungkin dua minggu lagi," ujar pejabat di RS itu sambil menghitung perjalanan pengecekan administrasi semua dokumen itu. "Itu paling cepat".
Saya sudah telanjur punya jadwal ke Suriah. Juga beberapa komitmen di dalam negeri. Ternyata jadwal transplant lebih lama dari perkiraan.
Akan tetapi urusan transplant tinggal satu: menunggu. Sudah ada kisi-kisinya: paling cepat dua minggu lagi.
Kakak Nisa juga harus segera pulang. Masa tinggal satu bulan di Tiongkok sudah habis. Lilik harus pulang bersama suami. Saya ke Syria.
Abror sudah lebih dulu kembali ke Mojokerto: ia pegawai negeri bagian menikahkan orang. Izin tidak masuk kerjanya habis.
Pernikahan tidak bisa ditunda. Calon pengantinnya yang keberatan –buru-buru bulan madu.
Saya yakin Nisa siap merawat sang suami. Dia sarjana keperawatan Unair –meski belum pernah bekerja sebagai perawat beneran.
Ada rasa tidak tega meninggalkan Nisa sendirian. Maka saya cari sukarelawan yang bisa berbahasa Indonesia sekaligus bahasa Mandarin.
JPNN.com




