Rabu, 24 Oktober 2018 – 01:01 WIB

Inilah Bentuk Cinta Tulus pada Tanah Air, Luar Biasa!

Senin, 13 Agustus 2018 – 00:55 WIB
Inilah Bentuk Cinta Tulus pada Tanah Air, Luar Biasa! - JPNN.COM

jpnn.com - Jumlah penderita diabetes di Indonesia makin bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat sehingga selalu rutin menguji kadar gula darahnya. Pun demikian dengan yang sudah divonis diabetes juga wajib mengecek kadar gulanya. Sayangnya pengecekan gula darah ini menimbulkan efek sakit lantaran harus diambil darahnya.

Mesya Mohamad, Pekanbaru

BENAR kata Presiden RI ketiga BJ Habibie, Indonesia punya teknologi yang bisa mendorong kemajuan bangsa. SDM Indonesia hebat-hebat karena bisa menciptakan teknologi yang dibutuhkan masyatakat.

Sayangnya, SDM hebat ini banyak berkiprah di luar negeri karena fasilitasnya lebih menggiurkan. Namun masih ada anak bangsa yang memikirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satunya adalah Dr Tulus Ikhsan Nasution. Ahli Fisika Instrumentasi dari Universitas Sumatera Utara (USU) ini menciptakan teknologi yang sangat bermanfaat bagi para penderita diabetes.

Keinginannya menciptakan alat yang diberi nama DiaSen (Diabetes Sensor) ini karena melihat banyak penderita diabetes yang kesakitan saat diambil darahnya untuk pengujian kadar gula darah. Selain itu pengujian dengan metode pengambilan darah bisa menimbulkan infeksi sehingga memperparah penderita diabetes.

"Penderita diabetes kan tidak bisa luka tapi kalau diambil terus darahnya dan alatnya tidak higienis justru menimbulkan infeksi," kata Tulus yang ditemui di pameran Ritech Expo memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 di Pekanbaru, Riau, Jumat (10/8).

Melihat itu, doktor lulusan Universitas Sains Malaysia ini pun tertarik menciptakan teknologi yang bisa meringankan penderita diabetas saat pengujian kadar gula darah. Bersama sang istri Dr Irwana Nainggolan yang juga ahli Sains bahan/kimia USU, Tulus melakukan riset.

Kurang lebih enam tahun lamanya Tulus dengan dibantu sang istri melakukan pengujian dari materi hingga ke teknologi android. Menariknya, riset enam tahun itu hanya menghabiskan dana Rp 200 juta.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar