Insentif Kendaraan Dinilai Masih Jadi Penyangga Industri Otomotif
jpnn.com, JAKARTA - Pelemahan daya beli kelas menengah dinilai masih menjadi tantangan utama bagi industri otomotif nasional.
Di tengah kondisi tersebut, insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV), disebut masih memegang peran penting untuk menjaga performa pasar otomotif Indonesia.
Pengamat Ekonomi Senior Perbanas, Josua Pardede, menilai penurunan daya beli kelas menengah terjadi cukup signifikan dan berdampak langsung pada penjualan mobil, khususnya di segmen menengah ke bawah.
Termasuk di dalamnya kendaraan hemat energi berbiaya rendah (LCGC) yang mengalami koreksi cukup dalam.
“Data menunjukkan jumlah kelas menengah menurun tajam, sementara kelompok masyarakat rentan meningkat."
"Dampaknya nyata ke penjualan mobil segmen bawah,” kata Josua dalam diskusi bertajuk “Insentif EV Dihapus, Kemana Arah Masa Depan Industri Otomotif di Indonesia?” di Jakarta, Selasa.
Di tengah tekanan tersebut, kendaraan listrik justru tampil sebagai penopang pasar mobil penumpang, terutama pada kuartal IV 2025.
Menurut Josua, lonjakan penjualan EV yang terjadi pada Desember 2025 dipicu oleh kekhawatiran konsumen terhadap keberlanjutan insentif pemerintah.
Insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV), disebut masih memegang peran penting untuk menjaga performa pasar otomotif Indonesia.
- Prabowo: Indonesia Sudah Puluhan Tahun Tak Bisa Bikin Mobil Sendiri
- Insentif Menyeluruh Diyakini Bisa Percepat Investasi Industri Kendaraan Listrik
- Insentif Kendaraan Listrik Ditunda Lagi, Alva Punya Usulan Lain
- Ekonom Optimistis Insentif EV Bisa Mengerek Penjualan Otomotif Nasional
- Rupiah Menguat, Gaikindo Berharap Produsen Tidak Menaikkan Harga Kendaraan
- Pelemahan Rupiah Otomatis Menekan Industri Otomotif Nasional, Pakar Beri Penjelasan
JPNN.com




