Integritas Pendidikan dan Tantangan Ketahanan Nasional Pasca-Reformasi
Oleh: Ir. Ibnu Prakoso, M.Sos - Alumnus PPRA LVIII Lemhannas RI-2018, Ketua Bidang pengkaderan DPP IKAL-Lemhannas 2026-2031, aktif dalam kajian kebangsaan, penguatan karakter, dan isu ketahanan nasional
jpnn.com, JAKARTA - Peringatan Reformasi setiap bulan Mei semestinya dimaknai sebagai momentum evaluasi terhadap arah pembangunan nasional.
Reformasi 1998 tidak hanya bertujuan melakukan perubahan sistem politik, tetapi juga membangun tata kehidupan berbangsa yang lebih demokratis, adil, dan berintegritas.
Dalam perspektif ketahanan nasional, tantangan Indonesia saat ini tidak lagi semata bersifat konvensional, melainkan multidimensional.
Ancaman disinformasi digital, polarisasi sosial, pragmatisme politik, serta menurunnya kualitas etika publik menjadi bagian dari tantangan strategis bangsa.
Di tengah kondisi tersebut, sektor pendidikan memiliki posisi yang sangat menentukan.
Pendidikan bukan hanya instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga sarana pembentukan karakter kebangsaan dan integritas nasional.
Sayangnya, orientasi pendidikan nasional masih cenderung menempatkan keberhasilan pada aspek kuantitatif dan administratif.
Sementara dimensi etika, kepemimpinan moral, dan wawasan kebangsaan belum sepenuhnya menjadi prioritas utama.
Peringatan Reformasi setiap bulan Mei semestinya dimaknai sebagai momentum evaluasi terhadap arah pembangunan nasional.
- LCC 4 Pilar 2026 Digelar, Arianto: Ruang Pembentukan Karakter Pelajar Papua
- Remiliterisasi Mengancam Demokrasi dan Negara Hukum, Menjauh dari Agenda Reformasi
- Waka MPR: Strategi Komprehensif Jadi Kunci Percepatan Kompetensi Guru
- Sampoerna University Raih Akreditasi Institusional NECHE
- Sebaiknya Prabowo Jadikan Penyelesaian Rempang sebagai Standar Tata Kelola Pembangunan
- Perbaiki Mutu Pendidikan Nasional, Waka MPR Dorong Terwujudnya Kolaborasi Semua Pihak
JPNN.com




