Intelijen dan Parpol Dalam Konsolidasi Demokrasi

Oleh: Benny Sabdo - Anggota Bawaslu DKI Jakarta; Pengasuh Kelas Konsolidasi Demokrasi MT Haryono 52

Intelijen dan Parpol Dalam Konsolidasi Demokrasi
Anggota Bawaslu DKI Jakarta; Pengasuh Kelas Konsolidasi Demokrasi MT Haryono 52 Benny Sabdo. Foto: Source for JPNN

Kedua, kehadiran kecerdasan buatan dan perang opini di media sosial melahirkan tantangan baru.

Intelijen dituntut mampu membedakan mana dinamika politik sipil yang sah dan mana gerakan disinformasi terstruktur yang mengancam negara.

Salah kalkulasi dalam membaca data digital ini berisiko membungkam suara kritis masyarakat.

Ketiga, buku ini tidak hanya berhenti pada pemetaan masalah, tetapi menawarkan gagasan reformulasi.

Kunci utama untuk menjaga agar hubungan intelijen dan partai politik tetap sehat di era demokrasi adalah akuntabilitas hukum dan mekanisme pengawasan ketat.

Intelijen harus tetap ditempatkan sebagai lembaga negara yang independen dan bebas dari afiliasi politik.

Akhirulkalam, buku ini dapat menjadi alarm pengingat yang berharga bagi jalannya demokrasi Indonesia.

Intelijen dan parpol adalah dua roda yang harus berputar di jalurnya masing-masing. Jika keduanya bersinergi secara profesional di bawah koridor hukum, maka kualitas demokrasi akan meningkat.

Politik elektoral adalah tentang kebisingan dan persepsi publik. Intelijen adalah tentang keheningan dan realitas objektif.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News