Jenderal Baliho

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Jenderal Baliho
Ilustrasi tentara. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com - Ada sebutan Jenderal Baliho yang muncul dari netizen, untuk menyebut seorang jenderal yang menurunkan baliho di Petamburan, Jakarta.

Wilayah itu dikenal sebagai markas besar organisasi FPI yang sekarang sudah almarhum.

Netizen menyebut seharusnya seorang jenderal terjun ke pertempuran, bukan ke Petamburan.

Beberapa hari terakhir ini netizen heboh lagi gegara jenderal berkomentar soal agama. Katanya semua agama sama baiknya di depan Tuhan. Sang jenderal bilang, karena itu tidak perlu terlalu fanatik dalam beragama.

Sesuai tupoksi, tentara memang harusnya mengurusi pertempuran, misalnya melawan para teroris dan separatis di Papua. Kalau ada tentara yang mengurusi Petamburan berarti dia menyalahi tupoksi, karena ikut cawe-cawe terhadap urusan yang bukan tugas, pokok, dan fungsinya.

Tentara yang ikut mengurusi Petamburan dan berkomentar mengenai politik dan agama, secara teoretis bisa disebut sebagai tentara yang tidak profesional.

Secara harfiah, tidak profesional berarti amatir. Tentara profesional adalah tentara yang setia menjalankan tupoksinya sebagai kekuatan pertahanan, mempertahankan negara dari serangan musuh.

Salah satu hasil reformasi 1998 adalah mengembalikan fungsi tentara kepada khitah sebagai kekuatan pertahanan. Tentara dikembalikan ke barak, back to the barrack.

Netizen menyebut seharusnya seorang jenderal terjun ke pertempuran, bukan ke Petamburan.