Jumlah Guru Sudah Cukup, Buat Apa Ditambah?

Jumlah Guru Sudah Cukup, Buat Apa Ditambah?
Guru SMA sedang mengajar. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Jumlah guru di Indonesia dinilai sudah cukup sehingga tidak perlu lagi ditambah. Ini berdasarakan rasio guru terhadap anak didik yang berada di angka 1:16.

Angka tersebut lebih tinggi dibanding Singapura, Korea, Tiongkok, dan Amerika. "Buat apa tambah guru lagi. Guru kita sudah banyak kok, cuma penyebarannya yang enggak merata," kata Indra Chrarismiadji, pengamat pendidikan, dalam diskusi pendidikan di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senin (28/5).

Dia menyebutkan, mutasi guru sebenarnya sudah terjadi, tapi di Kementerian Agama (Kemenag). Sedangkan guru-guru di Kemendikbud belum dilakukan, karena ada desentralisasi.

Kalaupun tata kelola guru ditarik ke pusat, lanjutnya, bukan berarti masalah guru selesai.

Ada dua sistem yang sudah berjalan, yang dua-duanya punya problem. Harusnya bagaimana memerbaiki sistem tersebut.

"Secara angka atau rasio jumlah guru kita sudah hebat lebih hebat dari Singapura, Tiongkok, dan Amerika. Bahkan kajian Bank Dunia, anggaran pendidikan kita 46 persen larinya ke guru. Nah ini gurunya guru yang mana?" ucapnya.

Dia mencontohkan guru PNS di DKI Jakarta digaji Rp 31 juta per bulan. Sedangkan di sekolah lain ada yang gurunya dibayar Rp 300 ribu per tiga bulan, perbedannya bagai bumi dan langit.

Itu baru penghasilan, belum juga tempat kerja. Pengaturannya belum jelas. Kadang pemda kepeduliannya terhadap kondisi ini sangat minim.

Jumlah guru di Indonesia dinilai sudah cukup sehingga tidak perlu lagi ditambah. Ini berdasarakan rasio guru terhadap anak didik yang berada di angka 1:16.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News