Kambing Verde
Oleh Dahlan Iskan
Kalau saja Davies dalam kondisi prima hasil Kanada-Maroko bisa berbeda. Itulah sepak bola.
Setidaknya pendatang baru Kanada sudah punya prestasi setingkat Brasil yang sama-sama tersisih di babak 16 besar.
Pembicaraan di TV Kanada pun sangat dalam soal kekalahan tim nasionalnya itu. Akan tetapi yang lebih menonjol ialah pujian atas timnas mereka yang berhasil sampai babak 16 besar.
"Keberhasilan ini akan mengubah sejarah sepak bola Kanada," ujar komentator TV mereka.
Itu akan mirip dengan yang terjadi di Amerika. Setelah Piala Dunia di Amerika tahun 1994, sepak bola Amerika sangat maju. Lihatlah penampilan tim Amerika. Begitu bagus. Umpan-umpan pendeknya menakjubkan. Kadang dengan gerakan kaki menyepak yang cerdik.
Dua kali Piala Dunia di benua Amerika membawa kemajuan besar sepak bola di belahan utara benua itu. Tidak menyangka sepak bola mulai jadi kegemaran mereka. Mulai. Masih di tahap awal.
Misalnya, saat saya menonton siaran langsung Brasil-Norwegia kemarin. Saya pilih nonton di lokasi kesukaan saya: sport bar. Banyak layar tv-nya. Bisa sambil makan malam meski pukul 20.00 matahari di Quebec City masih tinggi.
Di sport bar itu enam layar tv-nya menyala semua. Lebar semua. Sepak bola semua.
JPNN.com




