Rabu, 24 Juli 2019 – 05:39 WIB

Kapasitas Besar, Permintaan Biodiesel Minim

Selasa, 16 November 2010 – 10:47 WIB
Kapasitas Besar, Permintaan Biodiesel Minim - JPNN.COM

JAKARTA - Minat investor untuk mengembangkan industri biodiesel relatif rendah. Di antara 22 perusahaan yang tercatat menggeluti bisnis tersebut, saat ini hanya lima yang memiliki kontrak dengan Pertamina. Sisanya menyuplai keperluan ekspor ke sejumlah negara.

Wakil ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Immanuel Sutarto mengatakan, minat berinvestasi di industri biodiesel memang tidak terlalu besar. Padahal, konsep biodiesel mendukung penggunaan energi terbarukan. "Sampai saat ini hanya lima perusahaan yang aktif berproduksi karena sudah terikat kontrak dengan Pertamina," katanya di sela acara Forum Bisnis InfoSawit di Hotel Borobudur kemarin (15/11).

Salah satu penyebab minimnya minat investor menanamkan dana di bidang biodiesel adalah rendahnya permintaan konsumen. Akibatnya, kapasitas terpasang tiap produsen tidak maksimal. "Kapasitas besar, tapi realisasi sesuai permintaan tidak sebanyak itu," ungkapnya.

Dia menyebutkan, kapasitas pabrik terus mengalami peningkatan tiap tahun. Bahkan, tahun ini ada satu perusahaan biodiesel yang melanjutkan pembangunan pabrik miliknya. Total kapasitas pasokan tahun ini diperkirakan bisa mencapai 3,9 juta KL, meningkat dibanding tahun lalu yang hanya 2,9 juta KL. Tahun depan, kapasitas produksi diperkirakan mencapai 4,4 juta KL. "Yang jadi masalah, realisasi produksi berdasar permintaan tidak sebesar itu," kata Sutarto.

Dia mencontohkan, realisasi tahun lalu hanya membukukan 350 ribu KL, sedangkan akhir tahun ini diperkirakan hanya 600 ribu KL. Tahun depan diprediksi mengalami kenaikan menjadi 700 ribu KL. "Dari total penjualan itu, sekitar 200 ribu KL merupakan bagian dari kontrak ekspor ke sejumlah perusahaan di dunia," jelas dia.

Timpangnya kapasitas produksi yang besar dengan permintaan yang minim menyebabkan tidak semua perusahaan fokus menekuni bisnis biodiesel. Saat permintaan turun, perusahaan memilih stop produksi dan mengembangkan bidang usaha lain. "Kalau menggantungkan biodiesel saja akan rugi," ujarnya.

Di sisi lain, persaingan harga juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis perusahaan biodiesel. Dituturkan, harga biodiesel bisa bersaing kalau harga BBM dari minyak naik, sementara harga CPO atau bahan baku tetap. Saat ini, harga dipatok pemerintah sebesar USD 1.015 per ton. "Sebenarnya kalau di Eropa harganya USD 1.200 tapi karena ditambah transportasi jadi sama saja. Kalau international price USD 1.150," urainya. (res/fat)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar